Social Icons

Pages

Showing posts with label about life and all. Show all posts
Showing posts with label about life and all. Show all posts

Thursday, December 22, 2016

Gayung Bersambut

Not try to show you part of me, no one else can find. Estetika sebuah pertahanan diri yang mulai gugus seiring waktu. Tembok kokoh pernah dibangun, bahkan diperkuat, dijaga, tak seorangpun diijinkan untuk masuk. Silahkan, bagi mereka yang ingin sekedar mengintip, dan nilai sesuka kalian. Aku tak akan pernah perduli.

Makna sering disalah arti, tanda tak pernah selalu pasti. Kita sering salah, dan akan salah lagi. Lepaskan apa yang tidak sesuai dengan anganmu, lihatlah apa yang ingin kau lihat, dengar apa yang ingin kau dengar, cium apa yang ingin kau cium. Meski dengan begitu kau menjadi cukup picik sebagai seorang manusia.

Apa yang tidak kau mengerti adalah apa yang harus kau cari, apa yang tidak kau pahami adalah apa yang harus kau pelajari. Pernah tertarik untuk membaca sebuah buku bukan berarti ingin untuk memilikinya, pernah memuji bukan berarti menyukainya. Masih berani menafsirkan apa yang tidak kau pahami? Setidaknya kita pernah mencobanya, walau gagal. Disukai itu menyenangkan, diperhatikan itu menenangkan. Jangan disalah arti, kebaikan tidak harus selalu menyembunyikan maksud. Kita hidup di satu zaman tapi mungkin dalam perspektif yang berbeda, tidak perlu gusar, tidak perlu berlebihan, semua yang menurut Anda (kalian) tampak rumit sebenarnya sangat sederhana. Tidak lebih rumit dari jatuh tempo sebuah cicilan.

Yang menjadi pertanyaan, adakah yang pernah dihubungi malam hari, bertukar suara yang berat, menggema untuk membahas sesuatu yang tidak pernah penting namun berarti? Atau dimintai pendapat soal warna sepatu yang bagus? Minimal dua itu saja, ada? Jika tidak maka kekhawatiran, asumsi, pendapat, claim, dan pengamatan anda (kalian) selama ini artinya hanya sekedar apa yang ingin kalian yakini. Karena nyatanya tidak seperti yang dirumitkan.

Pada akhirnya mereka yang pergi telah melewati dua hal: kebaikan atau keburukan. Menyesalinya atau mensyukurinya, itu juga berarti merelakannya ialah sebuah hal yang menjadi semestinya.


Seorang pria tua pernah bertanya, “apa yang kau sukai, Nak?”

“Aku tak pernah benar-benar menyukai sesuatu begitu dalam, hingga harus aku ingat-ingat dan kuceritakan pada orang lain.” Jawabku.

“Kalau ada yang menyukaimu? Pasti kau akan bahagia, lalu kau ceritakan pada orang lain.” Pria tua itu percaya diri.

“Aku pasti senang, namun menceritakannya pada yang lain bukanlah berbagi senang, namun menyuapkan ego dan kesombonganku yang dipaksakan untuk mereka makan, mereka cerna.”

“Ternyata, kau tidak pernah berubah, selalu sulit ditebak, bahkan di lingkungan keluargamu sendiri, anakku.”

“Di lingkungan manapun tepatnya, Pih.”

Banyak mata yang dirasa terlalu fokus pada satu titik, menilai berdasar apa yang tampak, membedah apa yang tersirat. Bagaimana bisa melihat seperti apa isi rumah jika hanya menengadahkan kepala dari luar halaman? Jika ada akan kuangkat topi dan tepuk tangan dengan penuh apresiasi.
Jika tidak, tak mengapa.

At least we tried :).

Sunday, December 6, 2015

Membirukan Senja

Sering kita sadari setelah beberapa tahun kemudian, setelah hal lalu hanya dianggap lelucon, saat masa-masa itu merupakan hal yang tidak lagi dirasa indah, kemudian kita menyatakan bahwa ternyata mungkin apa yang kita rasakan saat ini akan berlaku sama dengan masa lalu yang kita anggap tidak lagi indah ini. Namun setidaknya kita pernah berusaha, atau minimal kita pernah menginginkan kehidupan ideal, yang nyatanya... penuh omong kosong.

Tidak sedang memerankan seorang tokoh, menjadikan alur terjadi seperti sur-realisme bukan pula menjadi tujuannya, namun akhir adalah akhir. Mungkin mereka dapat menyimpulkan tentang pertemuan berikutnya, kejutan selanjutnya, kemungkinan yang tidak pernah menurutkan harapan, yang sebenarnya hanya sebuah angan belaka, tak lebih. Ketika dibenturkan dengan kenyataan sesungguhnya, saat merasa bahwa hidup ini ternyata penuh omong kosong, diisi melulu soal kekecewaan, tidaklah terlalu kejam untuk memaki bahwa hidup tak pernah adil. Hanya raut muka yang dapat menutupi, namun perasaan tak dapat dipungkiri. Kopi pahit tetaplah pahit, tidak bisa berpura-pura bahwa itu manis. Pun kebahagiaan, kesedihan tetaplah menyedihkan, tak seharusnya berpura-pura bahagia. Adapun yang bisa seperti itu, ia hanya sedang bersandiwara. Dan sandiwara terburuk dalam kehidupan yaitu berpura-pura bahagia.

Kita pernah bahagia, kita harus. Kita pernah sedih, kita juga harus. Lalu seperti apa bahagia itu? Sebuah tujuan kah? Atau sebuah hadiah? Yang kita tahu, setiap mencapai tujuan tidak selalu mendapat hadiah, dan saat mencari hadiah belum tentu itu menjadi tujuan. Namun sepertinya kekecewaan sering datang pada mereka yang menjadikan hadiah sebagai sebuah tujuan.

Seseorang pernah berkata, dan bahkan mungkin ia pernah melakukannya, bahwa perjuangannya bak membirukan langit senja yang jelas-jelas selalu merah. Perumpamaan yang bagus untuk sebuah kesia-siaan, konotasi tentang kemustahilan, yang juga menyimpan perasaan sangat mendalam, kesan yang tak akan terlupakan, dan ketidakberdayaan. Secuil saja harapan hinggap, selamanya ia akan berpikir bahwa itu mungkin terjadi. Hidup tak harus selalu begitu, sayang. Lebih baik jika keniscayaan kau gunakan untuk sesuatu yang lebih layak bagimu. Ada masa yang seharusnya tidak diulang kembali. Jika itu manis nikmatilah, jika itu pahit telan sajalah. Keduanya sudah sama-sama kau ketahui di awal bahwa itu merupakan sebuah konsekuensi dalam salah satu dari ribuan tatanan kehidupan, juga representasi kehidupan. Only you can choose what you wanna see.

Aku selalu senang jika diharapkan, juga akan menjadi takut ketika terlalu diharapkan. besar-kecilnya harapanmu adalah yang menentukan tingkat kekecewaanmu. Dan tak ada yang lebih menyedihkan selain dikecewakan, aku kira. Bukan bagaimana dikecewakan, tapi seberapa besar harapan itu kau bangun. kau bisa menjadi apapun, tapi tak dapat membuat siapapun selalu seperti inginmu.

Mengharapkan akhir bahagia bukanlah sebuah ketamakan, semua berhak mendapatkannya. Namun jika itu bukan konotatif maka akhir bagi manusia berarti mati. Dan jika seumur hidup kita selalu memiliki harapan, mungkin tidak pada saat mati. Maka harapan ialah ciri kita hidup. Harapan membuat kita tetap hidup, namun juga bisa membunuh kapan saja. Banyak orang bahagia, dan tak sedikit pula yang menderita akibat mengejarnya.

Dan ingat senja yang selalu merah, walau kita terus mencoba membirukannya. Kesia-siaan itu berawal ketika kita menganggap manusia seperti senja, kenyataannya kita bukanlah senja. Kita berusaha membirukan senja padahal selalu tahu bahwa senja hanya akan melegam.

Thursday, July 30, 2015

Pengakuan Seorang Pecundang

Duduk menunggu antrean biasanya menyebalkan, sebelum akhirnya tiba seorang Ibu duduk di sebelah saya lalu mengajak saya ngobrol. Panjang kami mengobrol hingga akhirnya ia bertanya tentang pernikahan. Saya pun menjawab jika saya tidak terlalu tertarik dengan pernikahan, ia tanya kenapa. Saya hanya tersenyum, kemudian ia memberikan sedikit statement bahwa pernikahan itu mungkin dibutuhkan, selain untuk memiliki keturunan, juga untuk mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan tidak sepenuhnya benar, harus ada yang mengingatkan. Orang tua tak selamanya dapat menemani kita. Lalu ia tersenyum, ia pun bilang selama ini suaminya tidak banyak melakukan apa-apa, selain membantunya bahagia, itu saja lebih dari cukup, lalu kebahagiaan itu bertambah datangnya dari anak-anak mereka. Ia bilang tidak mau mati dalam keadaan sendiri, kesepian. Karena tidak ada penderitaan yang lebih mengenaskan daripada kesepian. Happiness is you've always known you're not alone.
Saya tersenyum, terharu.. 
Kemudian saya tersedak ketika Ibu tersebut bertanya apakah tidak ada wanita istimewa yang benar2 saya inginkan untuk menemani saya di kemudian hari. Saya jawab ada, namun saya sudah tekan perasaan itu beberapa tahun ini, saya hampir merelakannya, membiarkannya bahagia dengan jalannya sendiri, saya mencintainya.. namun saya tak mau terlalu memaksakan apa yang tidak saya sanggupi. Ia menanggapi, bahwa sebelumnya ia tak pernah mengira akan bahagia bersama suaminya, namun suaminya bisa membuat hal yang menurutnya tidak mungkin, menjadi sangat mungkin, dan ternyata ia bisa. Kemungkinan itu selalu ada. Saya malu, kemudian mengakui bahwa saya hanyalah seorang pecundang. Ia tertawa, disanggahnya saya bahwa saya mungkin hanya seorang pengecut, sudah melewati asam garam kehidupan tapi terlalu berhati-hati, takut menghadapi kenyataan, dan akhirnya tidak terlalu berani mengambil risiko. Saya tersipu, mengiyakan perkataannya. Kemudian ia pamit, entah kemana.
Banyak yang bisa saya petik dari obrolan yang tak terduga itu, namun sayangnya.. tetap tak dapat mengubah ketertarikan saya terhadap pernikahan. Iya, saya mungkin terlalu pragmatis.

Sunday, November 2, 2014

Promises

Tentang mereka yang menyimpan sebuah janji, mengharap pada sesuatu yang hanya bisa dirasakan, yang dipendam cukup lama. Entah mengapa tersimpan kebahagiaan dibalik rasa sakit ini, muncul perasaan lega didalam kenyataan pahit, dan merasa segalanya telah usai.. hanya tinggal memulai kembali dari awal semula. Terpikir bahwa segala kegagalan merupakan jalan lain, cerita lain tentang kehidupan bahwa kita tak selalu dapat menyatukan sebuah harapan dengan realita secara terus-menerus.

7 tahun bukanlah waktu yang begitu singkat bagi seseorang yang menyimpan sebuah harapan besar, menyembunyikan janji yang hanya akan disebutkan pada saat harapan itu menjadi nyata, atau bahkan pada akhirnya kita kembali kepada rasa cukup.. merelakan. Tidak ada rumus dan ilmu pasti mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan, mengenai cinta pertama pun begitu. Pahit dan indah hanyalah sebuah perspektif. Sebagaimana kadarnya yang membuat kita menjadi seperti orang gila, seperti hilang kesadaran pada umumnya, juga tidak begitu memperhatikan gejala yang ada di sekitar.

Ada yang hilang, lalu tersisa perih.. dimana kita dipaksa merelakan, seakan tidak berdaya melawan saat sebuah belati yang berkarat menghujam jantung. Setelah belati tersebut dicabut dari tubuh ini, masih ada karat yang tetap menempel di sana sehingga menjadikan potensi untuk sembuh semakin kecil apabila mampu bertahan. Dan itu, pada saatnya akan mengerti tentang sebuah kerelaan hati, akan memahami tentang banyak sekali hal yang tidak dapat kita miliki, dan melangkah pergi menghadapi itu adalah sebuah keharusan, terpaksa atau bahkan dengan kerelaan hati.
Penantian itu bukanlah sia-sia, meskipun berakhir dengan kekecewaan. Ternyata harapan tak selamanya berakhir indah, ada hal yang tidak bisa kita pahami jika bergejolak dalam sebuah perasaan yang begitu dalam.

Ada cerita tentang penantian panjang, butuh waktu lebih dari 7 tahun untuk dapat mengetahui apa akhir dari cerita itu, tentang penantian itu.
Minggu cerah menjadi kelabu, setidaknya pada suasana hati. Berniat baik dalam menjalani aktivitas tak melulu harus datar lalu tanpa cerita lain yang tertulis. Bahkan saat lari pagi pun kita bisa mendapatkan cerita lain yang sebetulnya tidak berhubungan sama sekali. Saat lari pagi kita bisa saja mendapat sebuah wedding invitation dari seseorang yang benar-benar kita cintai, cinta pertama. Dan, itulah yang terjadi. Seketika kaki ini seakan tidak dapat digerakkan, leher tak mampu menopang kepala, dan badan seakan sangat kelelahan seperti telah memikul tiga karung beras secara sekaligus.

Hingga pada akhirnya janji itu disebutkan, diutarakan, dan diceritakan kepada orang-orang terdekat yang membantu menolong di perjalanan pulang saat berlari itu. Lari itu terhenti, yang bisa dilakukan hanya duduk terkulai lemas. Isi janji itu memiliki esensi yang cukup dalam, karena ada penentuan mengenai langkah setelah itu.

“Aku akan terus berharap, sampai harapan ini mati. Aku akan terus menunggu, sampai terjawab semuanya. Aku akan terus terus dan terus mengusahakan agar dia lah wanita itu, wanita disampingku. Berapa lama aku berharap, berapa lama aku menunggu, selama itu pula lah aku tidak akan menikahi wanita manapun. Sampai akhirnya, aku.. atau pria lain itu yang akan dinikahinya." Seperti itu.

Kini, tepat minggu depan semenjak tulisan ini dibuat.. adalah sebuah peristiwa dimana harapan itu mati, waktu menunggu itu telah habis, dan cerita tentang itu telah menemui akhir.

Terima kasih, begitu banyak pelajaran yang didapat. Meskipun hubungan pada waktu itu tidak lebih lama dibanding penantiannya. Tidak perlu menyalahkan apa-apa, kesempatan itu tidak pernah ada.



I hope you'll get a better life, my first..

Tuesday, September 10, 2013

1 Pilihan Pada 2 Mimpi yang Berbeda

Sebuah janji telah terucap, hanya ketika tersadar akan mereka yang pernah meninggalkan luka maka itu menjadi rumit. konstruksi pikiran kita tidak sepenuhnya mampu untuk menopang segala bahan yang menjadi beban di otak. Dalam hati ada cinta, dalam pikiran ada objek yang dicinta.. Tak serta merta kita dapat melupakan apa yang menjadi impian, terlebih ketika "bangunan" kepercayaan pernah runtuh dan sulit untuk disusun kembali.

Impian, merupakan pencampuran daripada hasrat keinginan dan susunan rencana-rencana ideal dalam rangkaian pikiran kebahagiaan yang dinilai dapat menciptakan sebuah ketenangan dalam diri, meskipun itu tidak menjamin segalanya. Impian tak melulu menjadi fatamorgana, impian dapat diciptakan, impian dapat diwujudkan......bagi mereka yang percaya tentunya.

Entah, bagi sebagian orang ketika mengingat impiannya sendiri merupakan sebuah kesedihan yang mendalam, seperti sebuah kekecewaan atas apa yang telah terjadi dan mempersalahkan langkah juga diri sendiri tanpa henti.

Perlahan, ketika mimpi itu mendekat pada sebuah kenyataan...sedangkan kondisimu sekarang sedang terisi mimpi lain yang kadarnya berbeda, tidak kurang, akan tetapi hasratmu pada mimpi yang mendekati itu menjadi lebih menggebu mengingat mimpi lain itu kepercayaannya pernah runtuh. Lantas apa sebenarnya yang terjadi ini?

Menjatuhkan 1 pilihan pada 2 mimpi yang berbeda, membutuhkan sebuah kebijaksanaan yang luar biasa. Kebijaksanaan tidak berdasar pada keinginan, kebijaksanaan tidak berdasar pada nafsu, kebijaksanaan tidak berdasar hasutan. Kebijaksanaan terlahir atas dasar pemikiran jernih seorang manusia yang mampu mempertimbangkan segala sesuatu dengan seluruh aspek positif serta negatif yang akan terjadi. Intinya, kebijaksanaan ini ialah memutuskan dengan menyesuaikan kemampuan.

Ini hidup, ini hidup.. Hal luar biasa apalagi yang akan terjadi di depan? Kompensasi atas seluruh kerja keras dan pembelajaran-pembelajaran hidup, akan setimpal.
Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, setimpal dengan apa yang telah kita lakukan.

Kita, makhluk lemah yang memiliki impian sangat besar, bahkan otak kita kadang tak mampu menopang mimpi tersebut, minimal menjadi kenyataan.
Tetapi ketika mimpi itu menjadi kenyataan, kita tak tahu harus berbuat apa....

Itulah salah satu bukti kelemahan...

Monday, July 22, 2013

Arsip 24 Maret

Aktivitas sebenarnya bukan sebuah masalah besar akan rutinitas membaca dan menulis, hanya saja mungkin teralihkan oleh hal yang dijadikan rutinitas sementara. Entah kemana saja, atau darimana saja, yang sungguh tidak terasa jika tulisan ini baru kembali dimulai (mungkin) setelah sekian lama tidak pernah disentuh.

Ada yang datang ada yang pergi, fase demi fase dilalui begitu saja. Entah kemana resolusi-resolusi dulu, ketika dihitung mungkin beberapa saja yang dapat terealisasi, entahlah.. hidup memang seperti ini. Berbicara soal kehilangan, sepertinya tidak seorangpun yang tidak merasa takut kehilangan.. Terlebih sesuatu itu penting, berarti, bermakna, dan sangat membekas.

Beberapa bulan lalu, kehilangan yang sangat besar begitu terasa (hingga saat ini). Yang tidak akan pernah terganti, yang akan selalu ada dalam lubuk hati yang terdalam, yang selalu menjadi cinta pertama, yang selalu menjadi orang yang paling tulus.. dalam segala kondisinya, Mama ..

Penyesalan itu hinggap ketika janji-janji yang pernah terucap sudah dirasa sia-sia tanpa adanya kehadiran beliau meski itu terealisasi, meski nyatanya tidak ada yang sia-sia. Bukan hanya soal janji, bukan hanya soal balas budi.. Minimal membuatnya semakin sadar bahwa anaknya ini benar-benar mencintainya, ingin melihatnya bahagia.. dan beliau dapat pergi dengan tenang.

Ada cerita dibalik ini,
selalu ada cerita ..
dalam perpisahan, serta pertemuan
selalu ada cerita ..

Tuesday, September 27, 2011

Kebahagiaan Tidak Bersifat Sama

Sering tak dapat kita sadari bahwa waktu berlalu begitu saja, entah itu dimaknai dengan hal-hal yang indah, atau kita hanya melaluinya dengan segelintir tawa palsu yang hendak tumbuh pada setiap sisi manusia yang tak dapat mensyukuri segala yang telah didapatkan atas pencariannya selama ini. Tuntutan demi tuntutan selalu menghantui setiap makhluk bernyawa, seperti halnya bernafas, kita tidak pernah tahu kapan udara yang dihirup itu begitu nikmat terasa, atau bahkan terabaikan begitu saja meskipun proses ekskresi yang lainnya terasa berbeda.
Berjalan kesana - kemari demi mencari hal yang baru, sehingga menemui titik jenuh atas pencariannya. Makna yang terkandung selama ini seakan hilang, tak meninggalkan bekas arti yang mungkin dahulu dirasa indah. Kemana kebahagiaan yang sekarang kita cari itu tertuju? Apakah langkah yg kita jajaki itu sudah benar mengarah ke jalan itu? Atau bahkan kita hanya berjalan dan berharap menemui titik temu dimana kebahagiaan itu dirasa cukup untuk mewakilkan hasil dari pencarian itu? Kompleks, benar-benar kompleks!
Bagai sebuah miniatur yang terombang-ambing fikiran atas dasar serta awal mulanya berbagai hal bersumber, dengan mempercayai teori sebab - akibat, serta menganut faham atau dogma yang selama ini tertanam dalam diri kita masing-masing. Semua seakan abstrak ketika berbicara tentang kebahagiaan. Bagaimana mungkin rasa rindu yang menyiksa itu dikatakan sebuah kebahagiaan? Dan bagaimana pula kita dapat menikmati proses tentang pencarian yang tak kunjung menemui titik akhir.
Lalu sebenarnya kita mencari apa dalam konteks "kebahagiaan" itu? Sebuah hal semu yang kita rasakan? Atau pembatasan diri tentang pencarian itulah yang kita namakan sebuah proses? Bergelut di dunia yang penuh canda ini merupakan sebuah hal yang dapat menguras fikiran jika tanpa pembatasan akan konteks yang sedang dilalui, karena jika tidak, kebahagiaan yang kita cari itu akan terus bersifat subjektif. Kita tidak bisa terus menerus berfikir kognitif karena banyak sekali lawan main yang kita jumpai di panggung sandiwara ini. Mereka yang ada, bukanlah miniatur yang bisa selalu kita gerakkan sesuai dengan apa yang kita mau, bahkan mereka pun bisa menjadi kognitif terhadap diri kita. Kita yang menyesatkan jalan dengan fikiran-fikiran kita sendiri.
Kebahagiaan itu relatif, Kebahagiaan itu tidak bersifat sama, juga tidak pernah akan abadi.
Seperti halnya keindahan, yang akan memudar seiring pergantian waktu
Dan mereka yang sukses merealisasikan impiannya menjadi sebuah kebahagiaan, merupakan orang-orang yang mampu menahan segala bentuk egosentrisme dalam kehidupan ini.

Sunday, June 12, 2011

Sedikit Kupasan Tentang Sebuah Hubungan "Adam-Hawa"

Unik sekali rasa yang ditimbulkan jika sudah berkaitan dengan lawan jenis. Cinta, sayang, benci, memiliki, keegoisan, kecewa, ikhlas, dsb. untuk memulai sebuah hubungan dengan lawan jenis, ditekankan bagi setiap insan agar selalu siap menjalani setiap konsekuensinya, karena lawan jenis kita bukanlah mimpi yang kita ciptakan sendiri. Perasaan yang kita miliki itu memiliki lawan kata, seperti misal rasa sayang, kecewa, tetapi tidak untuk cinta, cinta tak memiliki lawan kata, cinta itu mutlak.
Tetapi dalam sebuah hubungan, tidak cukup dengan hanya itu, ada banyak gangguan-gangguan dalam meraih mimpi kita sndiri, siapa yang tidak dapat bertahan, dialah yang tersingkir, dan terkadang, keretakan dalam sebuah hubungan itu bersumber oleh ulah tangan kita sendiri, bodohnya, kita sering melakukan pembenaran atas semua itu. Memang, dalam setiap perkataan yg dilontarkan, yang terpenting itu adalah pembenaran, tapi tidak semua pembenaran dapat dilakukan dalam setiap kondisi.
Jangankan masalah orang ketiga, kepekaan pun menjadi sebuah masalah ketika itu dipertanyakan, sehingga terjadilah sebuah penghitungan perbuatan. Padahal, orang tua kita tidak pernah mengajarkan kita untuk peka, dan ingatlah bahwa pasangan kita itu seorang manusia, bkn mimpi yg kita ciptakan. Jadi untuk apa kita mengharapkan kepekaan, inti dari sebuah hubungan itu adalah komunikasi, apa salahnya kita membicarakannya? Bukan malah meributkannya.
Dan tibalah sebuah keretakan itu dimulai, setelah muncul perbandingan (orang ke 3), yg secara posisi jauh lebih baik daripada pasangan kita,tapi perlu diketahui, bahwa itu dapat diistilahkan sebagai sebuah kabut, yang menghalangi pandangan kita terhadap pasangan. bagaimana tidak? pasangan kita sedang diributkan, secara bersamaan orang ketiga, keempat, dsb itu sedang tampil se-sempurna mungkin. Menariknya, orang ketiga, keempat dsb itu akan merasa diatas angin dengan keributan yang terjadi, yang ia harapkan adalah sebuah perpecahan terjadi. Walaupun ia sering mengeluarkan kata-kata bijak, dan sering menenangkan kita, tetapi dalam hatinya ia selalu berharap kita dapat melepas pasangan kita. Tetapi sayangnya, saat hubungan dengan pasangan mulai membaik, ia (org ketiga, keempat dsb) tak lebih dari sekedar org yg "terbuang".

Out of love .. sacrifice is born, hate is born .. and we are all able to know PAIN

Permasalahan tidak hanya muncul dengan keberadaan orang ketiga, permasalahan seperti ini hanya muncul bagi mereka yang kurang bisa menahan diri akan gangguan yang melanda.
Kita yang menentukan pilihan bagi kita sendiri, seharusnya kita dapat melakukan hal-hal yang membawa pada sebuah kebaikan, dengan tidak menciptakan rasa sakit baru, terlebih lagi bagi orang lain.

Tuesday, January 25, 2011

Pasang Surut

Udara malam ini terasa menusuk hingga ke tulang, cuaca semakin tidak menentu saja, sedikit cemas jika terus seperti ini, tapi selalu aku fikirkan agar waktu tidak terbuang dengan sia-sia, dan sebisa mungkin aku buat karya. Rindu sekali aku untuk menulis kembali, dan benar saja, ketika membuka kembali blog ini, terakhir aku menulis disini itu sekitar Juni 2010, lalu 6 bulan kemarin kemana saja ??
sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku ceritrakan, banyak sekali syair yang ingin aku rangkai, mudah-mudahan di lain waktu aku bisa menuliskannya disini.
Pasang surut tentang kehidupan itu kian terasa sekarang, terlebih dengan pemikiran kita yang semakin luas, semakin kita banyak tahu, semakin bingung kita menentukan arah jalan, terlalu banyak pilihan.
dan ternyata, sekian banyak permasalahan dari seorang pria, kebanyakan pria lebih rapuh ketika ditanya soal cinta, soal wanita, terserah anda ingin mempersepsikan seperti apa, tetapi intinya salah satu faktor yang menjatuhkan seorang pria ialah wanita. Mungkin ini hanya intermezzo, agar tidak selalu cemas dalam membaca, atau jika ada yang membaca ini sedang rapuh, mungkin sedikit lega karena "penyakit" yang anda alami sekarang itu tidak hanya anda rasakan sendiri :).
begitulah yang dinamakan pasang surut, ketika kita semakin banyak mempersepsikan sesuatu, justru itulah yang menyesatkan kita. Tapi memang kita sendiri tidak dapat lepas dari fitrah kita sebagai manusia, yang selalu tidak pernah puas akan hal apapun, sehingga semua yang terjadi menjadi sebuah persepsi .. tidak ada yang melarang kita untuk berpersepsi, hanya saja, filter yang dibutuhkan dalam sebuah persepsi itu haruslah jernih, agar input yang masuk juga jernih, sehingga persepsi yang kita keluarkan itu positif, dan terlepas dari segala bentuk kecemasan ..

Sunday, June 20, 2010

Mungkin Kurang Tepat Sasaran

Pola fikir yang terlalu imajiner, dan percaya terhadap sebuah pilihan, yang dirasa benar, sehingga tidak terlalu menghiraukan kondisi serta situasi yang lainnya. Skema perjalanan telah dirancang, berharap semuanya berjalan lancar, sehingga dapat memetik buah dari hasil jerih payah di setiap langkahnya. Tak pernah terfikirkan sebelumnya, bagaimana antisipasi jika tersesat di tengah jalan, atau bahkan berubah fikiran, yang hanya bermodalkan tekad dan determinasi yang tinggi, tetapi dalam hidup ini, tidak ada salahnya mencoba, apalagi itu untuk sebuah perubahan.
Mencoba mempraktekkan kepada lawan main di drama ini, tanpa ada perundingan sebelumnya, dan mengharapkan jalan ceritanya sesuai dengan alur yang telah tertulis, lalu bertemu dengan sebuah titik, titik dimana sang Sutradara kebingungan di tengah jalan cerita, karena pemainnya belum juga mengerti akan naskah yang diberikan. Mencoba membenahi kembali kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan, menanamkan kepercayaan kepada mereka, tetapi apalah daya, pemain itu belum juga mempunyai niatan untuk membuka mata dan hatinya. Karena sebuah kesalahan. Begitulah kira-kira jika hal ini diibaratkan sebuah opera.
Penyelesaian dalam hal ini masih digali, dengan mencari celah, dan waktu yang tepat, karena kegagalan dalam sebuah perencanaan akan sangat disesalkan, meskipun masih banyak kesempatan, tetapi yang sangat disayangkannya adalah ini sudah 3/4 jalan, hanya beberapa langkah lagi untuk menyempurnakan rencana itu.
Langkah demi langkah terus dijalani, tidak ada sedikitpun harapan bahwa praktek ini kurang tepat sasaran, dalam artian dengan lawan main yang kurang tepat, sehingga harus memilih kembali lawan main, dan dimulai dari awal lagi.
Tidak ada indikasi pembodohan dalam kasus ini ..
Hanya sebuah perencanaan demi sebuah perubahan ..
Dan dewasa serta bijak dalam sebuah permasalahan ..

Tuesday, March 9, 2010

Kontradiksi Akal dan Fikiran

Sekejap datang, dan tak pernah ingin pergi, selalu menjadi kontradiksi di dalam fikiran, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Semuanya berjalan sesuai poros, alur yang telah tertuliskan, serta drama yang dimainkan oleh beberapa aktor yang terlibat.
Sampai dimana titik akhir, serta sebuah pencapaian telah dirasakan, tanpa diketahui sebelumnya bahwa yang terjadi harus seperti itu, dengan melewati berbagai jalan yang tidak terduga sebelumnya.
Kemanapun angin berhembus, disitulah tanda kehidupan, karena masih merasakan angin tersebut berhembus, air yang mengalir seakan tidak pernah perduli, atau bahkan manusia-manusia itu yang tidak menghiraukannya.
Sesuatu yang telah didapat, ternilai selalu kurang, ingin melebihi dari pencapaian tersebut, itulah kontradiksi.
Dimana fikiran dan hati tidak dapat dicampurkan, seperti minyak dan air, sulit untuk menyatu, sulit disini bukan berarti tidak bisa. Dalam kehidupan kita mengenal segala kemungkinan dapat terjadi.
Mengenal sebuah kontradiksi, dimana itulah sebenarnya proses pendewasaan. Ketidaksesuaian antara fikiran serta hati dapat terasa ketika sebuah proses atau praktek pencarian fakta dilakukan, dimana tersimpan keraguan, ketidakyakinan akan sesuatu, atau bahkan spirit yang menggebu-gebu.
Sering sekali manusia melakukan sesuatu, tanpa menyadari bagaimana pandangan ataupun perasaan manusia lainnya, dan ketika dalam penuntutan sebuah hak itu bersinggungan dengan hak-hak manusia lainnya. Disinilah fungsi otak dari seorang manusia, digunakan untuk berfikir. Pergunakanlah apa yang telah diberikan, manfaatkan apa yang telah didapat, dan fikirkan fungsi dari itu semua guna mempermudah segala hal. Karena sering manusia itu kebingungan dengan fikiran dan logikanya sendiri, sehingga selalu menilai segala sesuatu itu tidak pernah cukup.
Ketidakpuasan dalam diri bisa dikikis dengan sebuah sikap yang selalu mensyukuri dalam mendapatkan apapun, ketika kita mendapatkan sesuatu, anggaplah itu sebuah hadiah, dan jangan sekali-kali hadiah itu dijadikan sebuah tujuan, karena sampai kapanpun tidak akan pernah didapatkan arti dari hadiah tersebut jika itu dijadikan sebuah tujuan.

Setiap manusia memiliki akal dan fikiran,
tetapi tidak semua manusia selalu menggunakannya
dan mereka yang maju adalah mereka yang menggunakan akal dan fikiran sebaik-baiknya.

Monday, February 8, 2010

Uruslah Urusanmu, Pentingkan Kewajibanmu juga Hak Orang Lain

Sulit memang ketika situasi dan keadaan mengancam sebuah kedudukan, sampai melupakan kewajiban serta hak orang lain, benar adanya ketika mereka mengurus hak-hak dari mereka sendiri, tetapi jangan lupa bahwa dibalik hak-hak kalian itu ada hak dari orang lain, bukankah itu sudah diterapkan dari zaman duduk di bangku sekolah yang paling dasar, tentang hidup bertenggang rasa, keselarasan hidup, dan semua yang tercakup dalam pendidikan ..
Inti dari pencarian itu bukanlah titik dari sebuah masalah, namun solusi dari permasalahan tersebut, serta tindak lanjutnya seperti apa, bukan berputar-putar di sekitar permasalahan itu, bukan penyelesaian yang didapat, tetapi pro dan kontra dari berbagai kalangan, yang akhirnya akan menyudutkan seseorang.
Bukankah lebih penting memperbaiki kerusakan, meningkatkan kualitas dan fasilitas, dan setiap permasalahan dijadikan referensi untuk bergerak dan berfikir lebih inovatif, tetapi ini malah dijadikan sebuah opini publik yang benar-benar membuat miris yang mendengar, dengan menilai secara subjektif, hanya ditujukan pada satu sudut pandang saja, tanpa memikirkan bagaimana tindak lanjut sebuah permasalahan, ingat selalu fakta sosial ini, ada sebab dan akibat, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Seseorang dapat berkata sesuatu karena memiliki alasan, bukan tanpa tujuan, dan hanya berdasar intuisi. Jika tidak ada kesalahan tidak mungkin seseorang akan memaki, ketika tidak ada kesempatan maka seseorang tidak akan berkembang, juga tidak ada permasalahan tanpa penyelesaian.
Hemat saya, urus saja urusan-urusan masing-masing, dahulukan kewajiban dan hak orang lain, yang lebih penting, karena ketika kita membicarakan hak, kita sudah mendapatkan itu sejak kelahiran, namun berbicara soal kewajiban, itulah jalan pilihan dari hak kalian, sehingga menjadi tanggung jawab bagi kalian sendiri.
Ketika kita menginjak bangku sekolah, sudah menjadi hak kita untuk mendapatkan pendidikan, tetapi jika tidak mendahulukan kewajiban kita (belajar) setelah mendapatkan hak itu, apa jadinya ?? Ketika kita menjadi dosen, kita memiliki hak untuk mendapatkan gaji, lalu kewajibannya adalah mengajar ..
Coba perhatikan 2 hal tersebut, jika kita mengambil dari satu sisi, kita mengambil hak pendidikan, tetapi kewajiban tidak dijalankan (belajar), apa yang dapat diambil ?? terbodohi selalu mungkin ..
ketika kita menjadi dosen dan akan mendapatkan hak (gaji), tetapi kewajibannya tidak dilakukan, akan mendapatkan gaji jika tidak mengajar ?? tetapi jika kita mendahulukan kewajiban, semuanya akan terjawab .. 2 hal diatas, jika kita mengutamakan belajar, maka ilmu yang diterima dari sistem pendidikan pun akan sangat berguna, faktanya, banyak orang sukses karena belajar, bukan karena sekolah..
jika berfikir sekolah atau pendidikan yang tinggi akan menjanjikan kesuksesan, mungkin hal ini adalah relatif, tetapi coba fikirkan, jika kita mempunyai kesempatan untuk bersekolah atau berpendidikan yang tinggi, bahkan sampai ke luar negeri, bisa dilakukan tanpa belajar ?? Pernahkah terfikirkan bahwa orang-orang sukses yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri itu asal muasalnya bagaimana ?? jawabnya, tanggung jawab dengan kewajibannya ..
Mengapa ?? Coba tanyakan pada diri sendiri ..
mungkin yang membaca ini dan sudah sukses akan tersenyum ..
mungkin juga jika yang membaca ini dan belum sukses akan tersadar akan kewajibannya, sebelum memperjuangkan haknya. semoga saja

itulah pilihan ..

Thursday, February 4, 2010

Terjebak Wacana ..

Satu pengartian kembali didapatkan dari hasil penelusuran selama ini, tidak terlalu buruk memang, namun cukup memperjelas, apapun itu memang sebuah fakta lebih aku sukai dan akan terus aku sukai daripada sekedar wacana, bahkan banyak wacana .. Karena ternyata aku pun terjerumus didalam kata ini, sebuah perkiraan yang ternyata aku sendiri dapat mendapatkan hasil yaitu kesalahan dari hasil tafsir selama ini. Cukup miris melihat realita yang ada, dan andai saja langkahku waktu itu tidak untuk mencakup yang lebih besar lagi, tanggung jawab, disini memiliki peran penting dalam segala yang ada sangkut pautnya terhadap hidupku. Cukup untuk mengusap dada, dan lebih bersyukur karena aku tidak terjebak dalam wacanaku sendiri, mirisnya, aku terjebak wacana orang lain.
Harapanku setelah itu, hanyalah dapat membedakan dimana posisi-posisi dari sikap serta ucapan dari apa yang ada disekitarku, karena ternyata, fakta sesungguhnya telah didapatkan, bahwa apa yang dikira itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan, dan masih banyak orang-orang yang hanya memiliki wacana untuk dijadikan modal senyuman palsu dan menaikan harkat martabat, dengan nilai-nilai yang mencelakakan keadaan, hingga menyakiti massa.
Tidak membicarakan seseorang atau satu pihak saja, tetapi lingkupnya banyak, dan aku yang berdiri kokoh yang mungkin dianggap badut oleh mereka itu telah mendapatkan apa yang aku dapat, hingga yang berlalu seperti wacana ataupun sikap yang membuat aku kokoh itu seolah hilang dengan berbagai macam ketidakadilan dalam bersosial, berbicara soal kebenaran, yang setiap saat selalu bersifat relatif, dan saat hal yang bersifat normatif selalu disangkut pautkan. Benar adanya kebenaran tidak pernah berpihak, namun kemenangan bersifat mutlak, dimana itu telah terjawab sebuah fakta yang dapat mematahkan semua teori-teori ataupun wacana yang tidak jelas.
Pembenaran adalah sesuatu yang penting dalam berwacana, namun tidak akan berarti apa-apa jika hal itu diutarakan kepada mereka yang tidak mengerti, ibarat sebuah perhatian yang dianggap sebuah pengekangan, sebuah permohonan yang dianggap sebuah pemaksaan, sebuah permintaan yang dianggap perampokan, dan sebuah pemberian dianggap pembayaran.
Kiranya kita harus dapat memilah dan memilih apapun itu, sehingga tidak terjerumus dalam suatu lembah kelam yang dapat membuat diri mengenal suatu kata penyesalan, pembacaan dan penafsiran haruslah dilakukan dengan cara yang sangat benar, pembedaan antara wacana, doa, dukungan, dan bantuan, karena semua seakan terlihat sama, tetapi faktanya dapat bersifat kamuflase. Dan untuk semuanya, semuanya, berhati-hatilah dalam lisanmu, sebelum itu menyakiti massa, menyakitimu.

Friday, January 1, 2010

Dua Ribu Sepuluh

hari berganti ., bulan berganti ., tahun pun berganti .,
ganjil berganti genap ., jalan terlihat panjang ., semakin banyak pilihan.. itulah hidup ., namun patut kita isi dengan penuh makna ., demi satu tujuan ., kebahagiaan ..
satu tentang semuanya ., arti hidup ., penuh dengan paradigma ., serta kamuflase yang dibuat diri serasa indah ., sehingga semuanya terlihat rumit ., sulit .,
namun itu semua tidak akan terlihat seperti itu ., jika kita dapat menggenggam satu ., yaitu kunci ., kunci dari kehidupan ., kehidupan yang diinginkan .. sehingga dapat mengenal diri serta apa yang ada pada pandangan kita ..
untuk apa hal yang tidak penting dipertanyakan ?? tetapi hal penting tidak dilakukan ., untuk apa memikirkan yang tidak penting ., jika tujuan ditelantarkan ., terasa makhluk berlogika ., namun kalah oleh logika nya sendiri ., terasa memiliki retorika lebih ., namun tidak ada yang dapat diperbuat ., mempertanyakan kondisi terhadap orang lain ., namun dengan semua omong kosong ., sekiranya dapatlah memikirkan sebelum apa itu akan terucap ., sebelum lingkarannya menertawakannya ..
dengan ini tidak perlu berlebih ., seperti kata mereka ., hanya kata "cukup" untuk membawa kita menuju gerbang kebahagiaan .. tidak perlu berlebih kiranya untuk menjadi superior ., cukup memanfaatkan apa yang ada dalam diri ..
semoga di tahun 2010 ., kita semua menjadi manusia yang superior .,
yah .. superior ..

Saturday, December 26, 2009

MENCOBA MEMAHAMI PEREMPUAN

Bacalah, dengan sedikit saja harap-harap cemas.

Bisakah Anda memahami perempuan? Saya segera melarikan diri jika ada yang menjawab bisa. Bukan karena membingungkan, tapi karena perempuanlah makhluk yang paling ambigu. Kita tidak pernah tahu pentingnya mereka bagi kita sampai kemudian kita kehilangan mereka. Kita tidak akan pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia berpakaian seksi, kelayapan di mall, tapi menolak untuk dipelototi. Kita juga tidak pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia melakukan operasi pengencangan payudara (artinya payudara mereka selanjutnya terbuat dari plastik, sama dengan ember) padahal mereka tahu bukan bagian itu yang membuat kita mencintai mereka.

Saya tidak pernah bisa memahami mereka. Dan tidak ingin mencoba lagi. Bukan karena saya kapok. Tapi karena saya tidak akan pernah bisa. Bisakah Anda memahami kenyataan berikut ini: mereka sangat seksi dengan pakaian dalam miu-miu tapi menjadi biasa saja ketika telanjang bulat? Mereka bisa sangat menggairahkan dengan rok yang tersingkap sedikit saja dan memaksa kita berpikir yang tidak-tidak, tapi kemudian malah terlihat lucu ketika telanjang sebab ada sisa lemak di sana-sini. Mereka jugalah yang bersedia memakai bra dengan penopang kawat, supaya kita memperhatikan dan mengaguminya dengan takjub. Minimal supaya kita tidak melihat ’isi kawat’ tetangga.

Bisakah Anda pahami semua itu?

Semua perempuan matre: sebab mereka menyukai keindahan, dan keindahan adalah daftar harga yang harus kita bayar. Hanya alam yang memberikan keindahan secara gratis, meskipun jalan menuju ke sana tetap harus bayar. Semua perempuan suka dipuji: sebab mereka menikmati pujian. Tapi pujian yang berlebih dan tidak tepat waktu justru membuat mereka jengah. Pujian Anda akan dimaknai gombal, walaupun mereka tetap suka digombali. Hampir semua perempuan mencintai anak kecil, dan mereka jugalah yang mengidap baby blues. Hampir semua perempuan mengatakan hal ini: gue capek nangis mempertahankan hubungan kita. Dan itu dikatakan sambil menangis. Hampir semua perempuan mengidap sindroma ini: pada usia 17 – 23 tahun selalu come up dengan pertanyaan siapa el-lu. Pada usia 24 – 29 tahun come up dengan pertanyaan siapa gue. Pada usia 30 – 35 tahun come up dengan pertanyaan siapa aja deh pokoknya kimpoi.

Hampir semua perempuan menangis usai mengucapkan ijab-kabul, dan membiarkan kita bingung sendiri mengartikan tangisan itu ekspresi rasa gembira atau ekspresi menyesal telah menikah dengan kita. Perempuan jugalah yang dianugerahi kelebihan terutama mencium bau busuk selingkuh kita. Sesekali mungkin Anda bisa menipu mereka, tapi mereka cepat belajar. Perempuan jugalah yang sanggup datang menemui wanita selingkuh kita, mengajaknya belanja dan nyalon bersama, mengajaknya meni-pedi, sambil meminta si wanita melepas kita untuk kembali ke rumah secara baik-baik, dan tak bercerita apa pun ke kita karena justru selingkuhan kita yang bercerita. Perempuan jugalah yang bisa menahan rasa sakit 9 kali lebih baik dari kita pria.

Masihkah Anda berusaha memahami mereka?

Usaha memahami perempuan, sejatinya, bukan usaha yang sia-sia. Minimal kita tahu pada akhirnya kita selalu gagal memahami mereka. Mereka bisa sangat tahu hadiah apa yang kita butuhkan di hari ulang tahun kita. Tapi kita harus bertanya ke temannya hadiah apa yang pas untuknya di hari ulang tahunnya. Kita menyerahkan sepenuhnya kepada mereka pilihan film yang akan ditonton, dan sesampai di dalam kita memikirkan hal lain yang tidak berhubungan dengan film tersebut. Ketika mereka bertanya apakah kita menikmati filmnya, dengan semangat tipsani (tipu sana-sini) kita berujar: owh, tentu. Kamu yang milih kan. Kita tidak berani mengatakan film itu membosankan, hanya karena kita tidak ingin menyinggung perasaan mereka. Kita selalu mengganggap mereka fragile, lemah. Tapi ketika mereka mengatakan enough is enough, kita yang datang menyembah termehek-mehek dengan janji sejuta surga. Anehnya, kadang mereka percaya akan ada sejuta surga.

Jika ada orang ke tiga di antara kita dan mereka, biasanya kita menyelesaikannya dengan ancaman, dengan hardikan. Sedangkan mereka menyelesaikannya dengan cara yang lebih elegan: mandi selama mungkin, berdandan secantik mungkin, tersenyum seyahud mungkin, dan menyapa seindah mungkin. Mereka hendak mengatakan, hei..., see, saya lebih cantik dari perempuan yang hendak mengganggumu itu. Cupunya kita, men’s talk selalu sekitar paha dan dada: siapa sudah mencicipi siapa, siapa sudah merasakan siapa, siapa dengan ukuran berapa, siapa sempit siapa lebar, siapa basah siapa kering –seakan-akan ukuran, sempit, kering menjadi penting kalau tidak akan terjadi kiamat. Sementara girl’s talk selalu tentang siapa lebih charming dari siapa, siapa yang ingin mencium siapa. Sesekali mereka juga membahas ukuran, tapi biasanya dilakukan untuk lucu-lucuan saja.

Kita sering membahas ukuran mereka. Padahal ketika ’pertandingan mencangkul sawah’ dilaksanakan, kita jarang ’menunggu’ mereka. Bagi mereka, keluar bareng adalah ekspresi cinta sejati. Tapi bagi kita keluar bareng adalah ekspresi usai nonton bioskop. Ini bukan soal jender, tapi kenyataan bahwa kita tidak mampu memahami kedalaman cinta mereka. Kita selalu mahir berkisah tentang pekerjaan-pekerjaan kita, tentang dunia yang hendak kita raih, dengan sedikit bumbu di sana-sini, dan mereka kita minta mendengarkan saja dengan takjim. Ketika mereka bercerita tengtang Zara, tentang Nine West, kita mulai menempelkan stiker matre ke kening mereka. Padahal, hei, mereka menyukai keindahan, yang ujung-ujungnya akan dipersembahkan kepada kita. Kita saja yang tidak mampu memahami maknanya.

Pernahkah Anda memeriksa fakta berikut ini: dibanding ayah Anda, ternyata Ibu Anda lebih sering tidur belakangan untuk membenahi semua hal, dan bangun lebih dulu untuk memulai semua hal. Periksa baik-baik fakta berikut ini: dibanding ayah Anda, ibu Anda lebih sering mengkhawatirkan keselamatan Anda!

Tahukah Anda kenapa perempuan suka menggunakan pakaian dalam warna hitam? Selain karena terlihat seksi, elegan, dan penuh misteri, juga karena mereka ingin menghidupkan kenangan kita akan emak kita dulu. Selalu ada sifat kanak-kanak dalam diri semua laki-laki, dan selalu ada sifat ingin diasuh, oedipus complex, dalam diri kita. Dan mereka tahu itu. Mereka mungkin menyukai warna biru, sesekali warna krem atau pink dengan renda di sekeliling untuk membantu menghiasi hari-hari mereka. Mereka mungkin saja memilih warna putih untuk memulai hari. Atau warna merah tua ketika mereka ingin tampak seksi. Tapi warna hitam tetap favorit mereka. Satu dari satu perempuan mempunyai pakaian dalam warna hitam. Jangan tanyakan ke mereka, karena mungkin saja mereka sedang memakainya.

Jangan karena ayat suci menyatakan ”istrimu adalah sawah, cangkullah sesukamu’ maka kita merasa mendapat hak untuk menghampiri mereka kapan saja di mana saja. Tidakkah Anda cukup mendapat informasi bahwa seminggu sebelum dan seminggu setelah mereka period adalah masa emas mereka untuk ’dicangkul’? Tidak perlu menjadi ahli roket untuk mengetahui hal remeh itu. Mereka bahkan bersedia mengingatkan kita akan tanggal-tanggal keramat itu. Pada tanggal 23 setiap bulan mereka akan suka cita berkata eh, tanggal 25an aku period loh. Ketahuilah, itu sign, tanda, bukan tanggal gajian.

Begitulah, kalau Anda masih mampu selingkuh setelah mendapatkan pelayanan sehebat itu, kini justru Anda yang sulit saya pahami.

repost from http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2355677

Tuesday, December 22, 2009

happy Mother's Day

sejauh mana kita dapat melangkah bukan tanpa andil dari ia (Ibu). selamat atau celaka kita benar-benar ada andil darinya. dari setiap tutur kata atau bahkan berperilaku haruslah dengan sangat baik, karena itu sangat menentukan demi mendapat restu serta doanya. takkan mampu kita melawan sebuah fakta sosial tentang ini, dimana kita durhaka terhadapnya, maka celakalah kita di dunia serta akhirat kelak. tetapi jika kita sungguh berbakti kepadanya, maka selamatlah kita dari dunia serta akhirat, sungguh, doa darinya adalah doa yang didengar oleh Tuhan.
sejauh ini aku sebagai anak hanya bisa menyusahkannya, dan hanya berfikir kenapa ini bisa terjadi, tanpa melakukan perbaikan-perbaikan yang seharusnya dilakukan. janji-janji terucap saja, mereka sekolahkan kita, kuliahkan kita, tidak banyak permintaan darinya, cukup 1 hari saja, yaitu wisuda, hanya itu yang mereka harapkan dari kita, sungguh menggetarkan hati..
sekali lagi aku berjanji. aku pasti membahagiakanmu ibu, aku tidak akan mengecewakanmu, aku akan menjadi anak yang berbakti kepadamu, sungguh ini akan aku aplikasikan sehingga menjadi fakta, semoga saja ..
aku minta restu mu ibu ..
dari anak bungsumu ..
irdan ..

Monday, December 21, 2009

Yang Bernilai Indah

Mengharap satu dari peruncingan sebuah harapan ., dimana saat membuka mata ., semua yang terfikir muncul ., bukan hanya sekedar mimpi
aktivitas serta rutinitas dijalankan seperti biasanya ., namun berbeda ., ketika semua harapan telah menyatu dengan semua yang dirasa ..
Rasa sakit seakan terhilangkan begitu saja ., terhempaskan pada suatu yang baru itu ., tetapi tidak pernah tersadarkan ., yang dahulu telah tertulis dan tak dapat terhapus ., jadi itu yang dinamakan kenangan ., apakah itu manis ataupun pahit
kebanggaan akan suatu yang tidak bernilai apa-apa ., dan yang bernilai tidak tersentuh sedikitpun ., sungguh pola fikir yang sangat mencemaskan .. Meskipun itu tak tersadari ., tetapi semuanya berbeda jika itu pernah kita coba untuk lebih membuka mata
keindahan itu telah ternoda ., oleh karena ingin suatu pendapat dari orang lain yang dapat membanggakan diri sendiri ., sungguh dekat dengan kata megalomaniac ., hanya tidak diperlihatkan saja .. Perlu diketahui bahwa sanjunganlah yang sering membuat kemaslahatan ., lupa akan diri ., dan rasa egoisme yang sangat mencemaskan
satu orang yang terpercaya sungguh tak akan pernah ternilai ., yang dicari selama ini adalah solusi serta jalan keluar ., bukan kata-kata yang disusun dengan baik dan juga indah tetapi ujungnya diri sendiri lah yang ingin muncul ., benar adanya jika apa yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri ., tetapi ., pengartian dalam itu bisa salah ditafsirkan ., apa mau kita lakukan itu tetapi tidak berarti apa-apa bagi yang lain ?? Mengandai-andai tokoh superhero ., superstar ., atau idola-idola lain ., dan kata-kata yang pernah mereka lontarkan ataupun perilaku yang pernah mereka lakukan dijadikan contoh dan dijadikan pemahaman untuk orang lain ., sungguh ironis ., sedangkan yang sempurna dibalik semua yang terbaik ., tidak menjadi referensi untuk pemahaman bagi diri sendiri dan pengartian bagi orang lain .,
tak lain dan tak bukan adalah Nabi Besar kita ., seorang yang ditakdirkan untuk sempurna ., yang dilahirkan hanya sekali ., dan tidak akan pernah ada duplikatnya .. Dan kita lebih memilih mereka untuk dijadikan referensi ?? Itu yang dinamakan pemikiran yang dinamis ?? Yang berfikir lebih maju ??
Indah dirasa ketika menjadi diri sendiri ., tanpa ingin disamakan atau bahkan disetarakan orang lain ., atau ., mengikuti orang lain ?? Dengan melewati berbagai liku-liku kehidupan ., jalan yang lurus dan jalan yang berbelok mampu dilewati ., menjadikan sebuah kegagalan sebagai langkah menuju kesuksesan ., indahnya menjadi diri sendiri ..
Ketika mencari arti kehidupan yang indah ini ., lalu berbagi dengan yang lain ., pengaplikasian secara perlahan tapi pasti ., yang lain dijadikan referensi ., contohnya yang kita ambil ., bukan meniru orangnya .. jika tidak begitu, bisa dikatakan ., GAGAL .,
Mari songsong hari yang cerah ini dengan cukup menjadi diri sendiri ., yang lalu biarlah berlalu ., kesempatan kedua tidak semanis kesempatan pertama ., apapun itu ., bukan hasil yang menjadi orientasi ., tetapi proses ., dimana proses yang akan menentukan hasil ..

Wednesday, 12 August 2009 at 10:31
 
 
Blogger Templates