Social Icons

Pages

Monday, December 31, 2012

Catatan 31 Desember, 2012

Rumah Mama, malam kedua semenjak kondisi Mama semakin buruk dan merasakan waktunya sudah dekat menuju ajal. Seluruh keluarga dipanggil satu-persatu untuk dimintai maaf, kolega, hingga tetangga pun Ia sebutkan. Suasana sedih dan haru meliputi rumah kecil ini. Air mata dan isak tangis tak hanya dicurahkan oleh keluarga, tetapi yang hadir pada saat itu ikut merasakan kesedihan yang teramat dalam itu.
 
Malam ini, masih merasakan sakit pada bagian betis, sedikit pegal mungkin. Efek kemarin berlari sekuat tenaga dari jarak sekitar 3km saat mendengar kabar dari Kakak tentang kondisi Mama, kebetulan yang saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju sana. Hanya saja macetnya kota Bandung sedikit menghadang. Hari Sabtu, seperti biasanya.
Aku yang pada saat itu duduk disamping kursi kemudi, langsung membuka pintu mobil dan langsung berlari menuju rumah Mama, karena kemacetan itu dirasa akan sangat lama untuk dilewati, aku takut tak cukup waktu. Ditambah ketakutan akan panic attack, karena kakakku yang duduk di kursi belakang sudah menangis sejadinya.
Pada malam kedua ini, sedih rasanya saat menjaga Mama, memang semenjak hari pertama seluruh anak-anaknya semua menginap disini, kecuali anaknya yang ke 3, yang harus pulang ke Jepang meskipun tadinya Ia ingin mengurungkan niatnya untuk pulang.
Aku menjaganya sampai pukul 04.30, memberinya minum, membetulkan posisi tidurnya, mengelus tangan, kaki, serta punggungnya, dan mendengarkan Ia berbicara meskipun terbata-bata.
Semangat Mama sangatlah luar biasa, hanya saja akhir-akhir ini Ia sering mengeluh tidak kuat, capek, sakit. Bahkan tadi, Ia memohon Malaikat Maut untuk segera mencabut nyawanya, benar-benar seperti mendengar sebuah petir yang menggelegar.
Bagian paling membuat suasana ti'ing adalah saat Mama memaksakan menggerakkan tangannya untuk mengusap kepalaku, dengan susah payah Ia berkata "kasihan anak Mama, sebentar lagi ditinggal Mama". Hanya pada malam ini, atau memang semenjak kejadian itu, aku seakan seperti orang bisu, yang kebingungan untuk mengucap sepatah kata pun, entah kenapa.
Ada pula, saat Mama ingin duduk, dan kepalanya menyender pada bahu Apihku (Ayah). Seraya itu juga Apih memeluk Mama, sungguh hanya aku saksi hidup pada saat itu, indah.. Benar-benar sesuatu yang indah.
Akupun tersadar sebuah hal, Cinta.
Cinta sejati Mama, adalah Apih, Ayah kandungku.
Cinta kalian abadi
Dikaruniai anak-anak yang sangat mencintai kalian

Thursday, December 13, 2012

Mama :(

Tak pernah terpikir sebelumnya, bahwasanya perjalanan seseorang ada pada tahap pemberhentian. Tak terlepas tujuan itu sudah terselesaikan, atau terlupakan seiring waktu yang semakin hari semakin tak terasa berlalunya. Entah ujung jalan itu tergambar seperti apa, yang jelas setiap insan memiliki sebuah pencapaian dalam perjalanannya itu. Dan aku selalu meyakini bahwa sebuah kesederhanaan akan jauh lebih bermakna.
Semangat itu fluktuatif, semangat itu tidak menentu. Dan terkadang semangat yang menggebu-gebu akan mengalami penurunan secara bertahap. Kondisi yang membuat kita dapat selalu membuka mata agar lebih realistis dalam menjalani segala sesuatunya.
Ada cerita, tentang seorang wanita luar biasa yang memiliki semangat juang besar dalam hidupnya, yang terus bertahan melawan penyakit yang sedang dideritanya, Mama. Sekitar 8 tahun lebih beliau seakan berperang melawan sakitnya. Diabetes menurut catatan medis. Hanya saja keadaan ini semakin diperparah dengan komplikasi pada organ-organ dalam yang lainnya, yang juga disebabkan oleh diabetes itu sendiri karena penyakit ini menggerogoti organ-organ dalam siapapun pengidapnya.
Semangat itu tak pernah surut, meski pada kenyataannya entah berapa kali beliau harus keluar masuk rumah sakit pada tahun 2012, tidak terhitung.
Ada yang begitu mencengangkan, ketika membaca sebuah pesan dari kakak yang sedang menjaga beliau. Kakak mengabarkan bahwa kondisi Mama semakin memburuk setelah sekitar 2 minggu yang lalu keluar dari rumah sakit. Kakak memberitahu bahwa sekarang Mama mengalami sesak nafas, dan selalu mengeluhkan kesulitan dalam bernafas. Dan begitu kaget bahwa beliau meminta maaf kepada Apih (Ayah) dan juga semua anak-anaknya, beliau juga meminta semua anak-anaknya agar berkumpul dirumahnya karena beliau merasa waktu nya sudah semakin dekat...
Entah ini apa, pertanda apa. Aneh rasanya mendengar Mama seakan sudah tidak semangat lagi, biasanya beliau bukan hanya bersemangat tapi juga bisa memberikan motivasi kepada semua anak-anaknya, luar biasa bukan?
Apapun itu, apapun yang terjadi. Aku hanya berharap kondisi Mama akan terus membaik, secepatnya.  Menyesal rasanya ketika menerima kenyataan bahwa aku sendiri belum dapat menjadi seorang anak yang membanggakan, yang membalas segala jasa-jasanya, membahagiakannya terutama. Meskipun usaha untuk mencapai itu tidak pernah berhenti. Ada hal yang mengganjal, ketika merasa bahwa selama ini aku hanya bisa menyusahkan beliau saja.
Tangisanku tak dapat tertahan, ketika mendengar bahwa Mama hanya menginginkan anak-anaknya berkumpul. Dengan segala yang dideritanya, beliau masih menunjukkan bahwa kesederhanaan itu jauh lebih bermakna. Terima kasih, Mama...

Tuesday, September 27, 2011

Kebahagiaan Tidak Bersifat Sama

Sering tak dapat kita sadari bahwa waktu berlalu begitu saja, entah itu dimaknai dengan hal-hal yang indah, atau kita hanya melaluinya dengan segelintir tawa palsu yang hendak tumbuh pada setiap sisi manusia yang tak dapat mensyukuri segala yang telah didapatkan atas pencariannya selama ini. Tuntutan demi tuntutan selalu menghantui setiap makhluk bernyawa, seperti halnya bernafas, kita tidak pernah tahu kapan udara yang dihirup itu begitu nikmat terasa, atau bahkan terabaikan begitu saja meskipun proses ekskresi yang lainnya terasa berbeda.
Berjalan kesana - kemari demi mencari hal yang baru, sehingga menemui titik jenuh atas pencariannya. Makna yang terkandung selama ini seakan hilang, tak meninggalkan bekas arti yang mungkin dahulu dirasa indah. Kemana kebahagiaan yang sekarang kita cari itu tertuju? Apakah langkah yg kita jajaki itu sudah benar mengarah ke jalan itu? Atau bahkan kita hanya berjalan dan berharap menemui titik temu dimana kebahagiaan itu dirasa cukup untuk mewakilkan hasil dari pencarian itu? Kompleks, benar-benar kompleks!
Bagai sebuah miniatur yang terombang-ambing fikiran atas dasar serta awal mulanya berbagai hal bersumber, dengan mempercayai teori sebab - akibat, serta menganut faham atau dogma yang selama ini tertanam dalam diri kita masing-masing. Semua seakan abstrak ketika berbicara tentang kebahagiaan. Bagaimana mungkin rasa rindu yang menyiksa itu dikatakan sebuah kebahagiaan? Dan bagaimana pula kita dapat menikmati proses tentang pencarian yang tak kunjung menemui titik akhir.
Lalu sebenarnya kita mencari apa dalam konteks "kebahagiaan" itu? Sebuah hal semu yang kita rasakan? Atau pembatasan diri tentang pencarian itulah yang kita namakan sebuah proses? Bergelut di dunia yang penuh canda ini merupakan sebuah hal yang dapat menguras fikiran jika tanpa pembatasan akan konteks yang sedang dilalui, karena jika tidak, kebahagiaan yang kita cari itu akan terus bersifat subjektif. Kita tidak bisa terus menerus berfikir kognitif karena banyak sekali lawan main yang kita jumpai di panggung sandiwara ini. Mereka yang ada, bukanlah miniatur yang bisa selalu kita gerakkan sesuai dengan apa yang kita mau, bahkan mereka pun bisa menjadi kognitif terhadap diri kita. Kita yang menyesatkan jalan dengan fikiran-fikiran kita sendiri.
Kebahagiaan itu relatif, Kebahagiaan itu tidak bersifat sama, juga tidak pernah akan abadi.
Seperti halnya keindahan, yang akan memudar seiring pergantian waktu
Dan mereka yang sukses merealisasikan impiannya menjadi sebuah kebahagiaan, merupakan orang-orang yang mampu menahan segala bentuk egosentrisme dalam kehidupan ini.

Tuesday, August 2, 2011

Kehadirannya part II ..

mata mencuri sebuah hal yang indah untuk dilihat
semua terlihat begitu semu, dan tak seorangpun tahu
hal lain tak tersentuh, begitu mengutarakan mereka mengerti
tak selalu benar yang terasa, tak selalu tepat yang terucap
karena begitu, mereka tersenyum, mereka tertawa

ada duka, ada kebahagiaan, ada pertemuan, ada perpisahan
semua terjadi begitu saja, meninggalkan luka
tidak semua mereka sadari, apalagi tentang rasa sakit
mungkin mereka begitu, karena mereka menginginkannya
menjadi sebuah nilai dalam menjajaki langkah di dalam sana

segala bentuk kehadiran, adalah sebuah potensi
potensi dimana menjadi yang diinginkan, dan tidak diharapkan
andai mereka mengerti bahwa warna tak selamanya indah
untuk apa mereka membandingkan semua itu
selalu ada hal yang lebih baik saat itu menjadi baru

begitulah pasang surut, roda perputaran, dan warna kehidupan
tetapi duka lama tampak redup ketika kembali melihat mata yang tercuri saat itu
indah terasa, senyumannya, hangatnya, juga perhatiannya
semua seakan mengalihkan segalanya
yang tadi itu duka, berubah menjadi tawa

seakan menghapus semua duka, mungkin ini yang kedua
normal ketika itu dilewati biasa, dan yang baru menjadi lebih berarti
entah mengapa, mungkin baru mengalaminya, atau memang lupa pernah merasakan itu
yang jelas, membahagiakan, sungguh membahagiakan
mungkin waktu yang akan menjawab ini

semoga kebahagiaan ini tak hanya berlaku dalam hari-hari ini saja
berlanjut hingga sampai terlihat sebuah gerbang ..
yang diharapkan dapat dilalui bersamanya
sehingga semua itu menjadi indah
dan yang indah, ketika semua dimulai dari nol.

Thursday, July 7, 2011

Warna Bayangan Kehidupan

Sorot sinar Matahari mengingatkan kita pada bayangan yang selalu ada di belakang kita, pertanda bahwa apa yang telah dilalui, adalah sebuah pembentukan siapa diri kita. melihat dari sisi seperti itu tentu akan terlihat kabur, tanpa warna, dan hanya terlihat sisi bentuk serta tak terlihat keseluruhan dari isi-isinya. Warna, sebagai analoginya, merupakan isi dari warna-warna yang ada di kehidupan kita, ketika bayangan itu telah membentuk siapa diri kita, maka warna itu juga yang memperjelas siapa diri kita sebenarnya, meskipun warna itu hanya bisa terlihat oleh diri kita sendiri.
Kita sebagai makhluk kompleks tentu selalu mengingat apa yang telah kita lalui, terlepas itu manis ataupun pahit, tetapi itulah diri kita. Warna-warna lain juga sering kita jumpai, terlebih lagi ketika kita berinteraksi sebagai makhluk sosial yang tak bisa terpisahkan dengan kebutuhan berkomunikasi.
Secara gamblang, kita lebih mudah untuk mengingat hal buruk yang pernah terjadi, terlebih lagi ketika ada luka yang tertanam di dalam diri kita, baik itu kita sendiri yang menimbulkan goresan itu, ataupun orang-orang yang pernah berada di sekitar kita.
Hal buruk seringkali erat dengan rasa sakit, dan banyak sekali manusia yang tersesat dalam rasa ini. Akan menjadi sebuah kontradiksi ketika membicarakan keikhlasan, kesabaran, dengan rasa sakit. Perlu diketahui, ketika kita berbicara tentang ikhlas ataupun sabar, maka kita sudah tidak perlu terpusingkan rasa sakit yang pernah kita lalui.
Ketika ini semua berhubungan dengan konsekuensi atas langkah yang telah kita pilih, seringkali kita mengacungkan dan menunjukkan jari kita ke arah depan tanpa melihat cermin sebelumnya, yang berarti kita mempersalahkan sesuatu, bahkan seseorang atas rasa sakit yang kita terima, tetapi nyatanya kesalahan itu berasal dari perbuatan kita sendiri, itulah manusia.
Hal seperti ini merupakan contoh-contoh dari warna yang ada di kehidupan kita, yang sebelumnya hanya sebuah bayangan, maka dengan warna ini kita mengenal seperti apa diri kita. Ketika kita bertemu dengan manusia-manusia lainnya, benarkah kita dapat saling memahami seperti apa yang sering kita ucapkan?

Sunday, June 12, 2011

Sedikit Kupasan Tentang Sebuah Hubungan "Adam-Hawa"

Unik sekali rasa yang ditimbulkan jika sudah berkaitan dengan lawan jenis. Cinta, sayang, benci, memiliki, keegoisan, kecewa, ikhlas, dsb. untuk memulai sebuah hubungan dengan lawan jenis, ditekankan bagi setiap insan agar selalu siap menjalani setiap konsekuensinya, karena lawan jenis kita bukanlah mimpi yang kita ciptakan sendiri. Perasaan yang kita miliki itu memiliki lawan kata, seperti misal rasa sayang, kecewa, tetapi tidak untuk cinta, cinta tak memiliki lawan kata, cinta itu mutlak.
Tetapi dalam sebuah hubungan, tidak cukup dengan hanya itu, ada banyak gangguan-gangguan dalam meraih mimpi kita sndiri, siapa yang tidak dapat bertahan, dialah yang tersingkir, dan terkadang, keretakan dalam sebuah hubungan itu bersumber oleh ulah tangan kita sendiri, bodohnya, kita sering melakukan pembenaran atas semua itu. Memang, dalam setiap perkataan yg dilontarkan, yang terpenting itu adalah pembenaran, tapi tidak semua pembenaran dapat dilakukan dalam setiap kondisi.
Jangankan masalah orang ketiga, kepekaan pun menjadi sebuah masalah ketika itu dipertanyakan, sehingga terjadilah sebuah penghitungan perbuatan. Padahal, orang tua kita tidak pernah mengajarkan kita untuk peka, dan ingatlah bahwa pasangan kita itu seorang manusia, bkn mimpi yg kita ciptakan. Jadi untuk apa kita mengharapkan kepekaan, inti dari sebuah hubungan itu adalah komunikasi, apa salahnya kita membicarakannya? Bukan malah meributkannya.
Dan tibalah sebuah keretakan itu dimulai, setelah muncul perbandingan (orang ke 3), yg secara posisi jauh lebih baik daripada pasangan kita,tapi perlu diketahui, bahwa itu dapat diistilahkan sebagai sebuah kabut, yang menghalangi pandangan kita terhadap pasangan. bagaimana tidak? pasangan kita sedang diributkan, secara bersamaan orang ketiga, keempat, dsb itu sedang tampil se-sempurna mungkin. Menariknya, orang ketiga, keempat dsb itu akan merasa diatas angin dengan keributan yang terjadi, yang ia harapkan adalah sebuah perpecahan terjadi. Walaupun ia sering mengeluarkan kata-kata bijak, dan sering menenangkan kita, tetapi dalam hatinya ia selalu berharap kita dapat melepas pasangan kita. Tetapi sayangnya, saat hubungan dengan pasangan mulai membaik, ia (org ketiga, keempat dsb) tak lebih dari sekedar org yg "terbuang".

Out of love .. sacrifice is born, hate is born .. and we are all able to know PAIN

Permasalahan tidak hanya muncul dengan keberadaan orang ketiga, permasalahan seperti ini hanya muncul bagi mereka yang kurang bisa menahan diri akan gangguan yang melanda.
Kita yang menentukan pilihan bagi kita sendiri, seharusnya kita dapat melakukan hal-hal yang membawa pada sebuah kebaikan, dengan tidak menciptakan rasa sakit baru, terlebih lagi bagi orang lain.

Saturday, March 26, 2011

Tentang Zaman

Entah sudah berapa kali dunia ini berganti zaman, kitab suci menamakan yang sekarang ini adalah akhir zaman, yang dimana nanti bumi dan seluruh alam semesta akan dihancurkan oleh Sang Pencipta. Hal seperti ini merupakan rahasia besar yang tidak dapat diduga dengan daya nalar manusia, hanya bisa dipersepsikan tanpa dapat dipastikan kebenaran tentang kepastiannya.
Melihat realita pada tingkah laku manusia zaman sekarang, sepertinya kata "kemajuan zaman" hanya tersurat sebagai kata-kata dan simbol angka yang terus bertambah. Kenyataannya, perilaku yang dilakukan manusia sekarang juga pernah dilakukan oleh manusia-manusia sebelum kita dilahirkan. Ambigu jika kemajuan zaman ini dikatakan kemunduran zaman, karena zaman sekarang tidak dapat disamakan dengan zaman-zaman tertentu, hanya saja ada perilaku yang kembali seperti manusia di zaman dahulu.
Zaman sekarang ini, dimana kesalahan dibenarkan, dan kebenaran disalahkan. Kata "kemanusiaan" hanya sebatas wacana, tafsir-tafsir kitab suci disalahartikan, kerukunan antar umat beragama sudah memudar, pasangan sesama jenis semakin terang-terangan, faham atheis dijadikan trend, dan yang lebih parah lagi saat semua hal ini dibicarakan selalu terbentur dengan kalimat "HAK ASASI MANUSIA".
Kemajuan zaman bukan berarti kemajuan terhadap sebuah peradaban, dengan teknologi yang mutakhir, dan juga fasilitas yang disediakan menjadikan manusia-manusia semakin arogan, dan lebih mengedepankan hak daripada kewajibannya.
Mungkin bagi mereka, berdoa lewat media dianggap lebih baik daripada mengucapkannya secara langsung, telefon genggam lebih dahulu dipegang daripada membaca doa saat baru bangun dari tidur, apa pertanda dari fenomena-fenomena ini?
Apapun itu, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, tidak membuat manusia-manusia menjadi "buta" akan kesadaran dirinya sebagai insan yang selalu memiliki batasan dan mudah terluka dalam setiap langkahnya.

Tuesday, January 25, 2011

Pasang Surut

Udara malam ini terasa menusuk hingga ke tulang, cuaca semakin tidak menentu saja, sedikit cemas jika terus seperti ini, tapi selalu aku fikirkan agar waktu tidak terbuang dengan sia-sia, dan sebisa mungkin aku buat karya. Rindu sekali aku untuk menulis kembali, dan benar saja, ketika membuka kembali blog ini, terakhir aku menulis disini itu sekitar Juni 2010, lalu 6 bulan kemarin kemana saja ??
sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku ceritrakan, banyak sekali syair yang ingin aku rangkai, mudah-mudahan di lain waktu aku bisa menuliskannya disini.
Pasang surut tentang kehidupan itu kian terasa sekarang, terlebih dengan pemikiran kita yang semakin luas, semakin kita banyak tahu, semakin bingung kita menentukan arah jalan, terlalu banyak pilihan.
dan ternyata, sekian banyak permasalahan dari seorang pria, kebanyakan pria lebih rapuh ketika ditanya soal cinta, soal wanita, terserah anda ingin mempersepsikan seperti apa, tetapi intinya salah satu faktor yang menjatuhkan seorang pria ialah wanita. Mungkin ini hanya intermezzo, agar tidak selalu cemas dalam membaca, atau jika ada yang membaca ini sedang rapuh, mungkin sedikit lega karena "penyakit" yang anda alami sekarang itu tidak hanya anda rasakan sendiri :).
begitulah yang dinamakan pasang surut, ketika kita semakin banyak mempersepsikan sesuatu, justru itulah yang menyesatkan kita. Tapi memang kita sendiri tidak dapat lepas dari fitrah kita sebagai manusia, yang selalu tidak pernah puas akan hal apapun, sehingga semua yang terjadi menjadi sebuah persepsi .. tidak ada yang melarang kita untuk berpersepsi, hanya saja, filter yang dibutuhkan dalam sebuah persepsi itu haruslah jernih, agar input yang masuk juga jernih, sehingga persepsi yang kita keluarkan itu positif, dan terlepas dari segala bentuk kecemasan ..

Sunday, June 20, 2010

Mungkin Kurang Tepat Sasaran

Pola fikir yang terlalu imajiner, dan percaya terhadap sebuah pilihan, yang dirasa benar, sehingga tidak terlalu menghiraukan kondisi serta situasi yang lainnya. Skema perjalanan telah dirancang, berharap semuanya berjalan lancar, sehingga dapat memetik buah dari hasil jerih payah di setiap langkahnya. Tak pernah terfikirkan sebelumnya, bagaimana antisipasi jika tersesat di tengah jalan, atau bahkan berubah fikiran, yang hanya bermodalkan tekad dan determinasi yang tinggi, tetapi dalam hidup ini, tidak ada salahnya mencoba, apalagi itu untuk sebuah perubahan.
Mencoba mempraktekkan kepada lawan main di drama ini, tanpa ada perundingan sebelumnya, dan mengharapkan jalan ceritanya sesuai dengan alur yang telah tertulis, lalu bertemu dengan sebuah titik, titik dimana sang Sutradara kebingungan di tengah jalan cerita, karena pemainnya belum juga mengerti akan naskah yang diberikan. Mencoba membenahi kembali kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan, menanamkan kepercayaan kepada mereka, tetapi apalah daya, pemain itu belum juga mempunyai niatan untuk membuka mata dan hatinya. Karena sebuah kesalahan. Begitulah kira-kira jika hal ini diibaratkan sebuah opera.
Penyelesaian dalam hal ini masih digali, dengan mencari celah, dan waktu yang tepat, karena kegagalan dalam sebuah perencanaan akan sangat disesalkan, meskipun masih banyak kesempatan, tetapi yang sangat disayangkannya adalah ini sudah 3/4 jalan, hanya beberapa langkah lagi untuk menyempurnakan rencana itu.
Langkah demi langkah terus dijalani, tidak ada sedikitpun harapan bahwa praktek ini kurang tepat sasaran, dalam artian dengan lawan main yang kurang tepat, sehingga harus memilih kembali lawan main, dan dimulai dari awal lagi.
Tidak ada indikasi pembodohan dalam kasus ini ..
Hanya sebuah perencanaan demi sebuah perubahan ..
Dan dewasa serta bijak dalam sebuah permasalahan ..

Tuesday, April 20, 2010

Mencoba Pahami Keraguan

Pernahkah kita tersadar di setiap langkah yang kita jejakkan itu disertai dengan sebuah keraguan? Terlepas seberapa besar dan kecil sebuah keraguan itu, dengan keyakinan yang besar dapat menjadi sebuah bagian dan sekat yang berbeda. Mari fahami semua itu, karena setiap pertanyaan selalu muncul di otak kita hingga menstimulus sikap yang nantinya dimunculkan.
Keraguan itu sering muncul setiap akan melakukan aktivitas, dan timbul pertanyaan-pertanyaan di dalam diri sehingga muncul sebuah suggesti yang meyakinkan diri kita mampu ataupun tidak, tetapi jika disadari lebih dalam, tidak ada kata tidak bisa apabila mempercayai analogi segala kemungkinan itu dapat terjadi.
Benar sekali adanya, karena yang menstimulus semua itu adalah suggesti yang keluar di dalam diri kita sendiri, semua orang pasti bisa jika ia yakin bahwa ia bisa, dan semua orang pasti tidak bisa jika ia yakin tidak bisa. Dari mana tolak ukurnya? Kemampuan? Pengalaman? Pernahkah terfikir jika kemampuan dan pengalaman itu adalah hal yang telah dilakukan sebelumnya? Dengan sebuah proses pembelajaran, dan niat untuk mencobanya, sehingga muncul sebuah hasil, apapun itu. Terbayang hal yang belum pernah dilakukan? Atau bahkan masih ragu untuk mencobanya?
Meskipun sebuah keraguan itu muncul dari dalam diri, tetapi hal itu seharusnya tidak berpengaruh dalam percobaan dari sebuah proses.
Akan tetapi, berbeda kasus dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang sedang dirasakan atau bahkan difikirkan, seperti "apakah dia mencintai kita?". "Apakah kita mencintainya?", segala kemungkinan selalu terkumpul di dalam otak, pertimbangan dari setiap ucapan, sikap, dan perasaan, justru itulah yang menstimulus otak kita. Timbullah sebuah persepsi, dimana hal itu diyakini untuk beberapa saat sehingga muncul keraguan-keraguan selanjutnya. Jangan pernah menganggap sepele perkara ini, karena persepsi dan suggesti dari diri sendiri juga menentukan setiap proses pencarian hasil.
Aku sendiri meyakini banyak sekali orang-orang yang diselimuti keraguan dalam setiap langkahnya, dan orang-orang yang tersesat dengan pemikirannya sendiri.
Disini aku hanya mencoba untuk memahami, bukan untuk meyakinkan orang-orang agar meragukan setiap langkahnya, tetapi perlu disadari bahwa banyak sekali hal yang lebih penting dari ini, dan karena hidup itu pilihan, hargailah setiap proses-prosesnya, karena setiap langkah yang diambil itu penuh konsekuensi, tak terlepas itu menguntungkan atau bahkan merugikan.
Yang jelas, pergunakanlah apa yang kita miliki, aku kira kapasitas organ-organ tubuh yang ada dalam diri kita, sudah lebih dari cukup untuk melakukan sebuah tindakan.

Pengabdian yang Disertai Kesederhanaan

Melenyap sekejap dari sebuah fikiran yang terus mengisi otakku, serta mengandalkan sedikit intuisi yang memang selalu dibutuhkan di berbagai aktivitas. Semua seakan nyata di ruangan tertutup itu, meski hanya selintas terdengar suara-suara berbisik dari orang-orang yang berada di ruangan itu.
Merebahkan tubuh ini begitu mahal rasanya ketika semua aktivitas tidak dirasakan dengan berlebih, lalu bisa menemukan waktu yang bisa menenangkan seluruh fikiran. Seluruh isi dari ruangan itu kutatap, tak terkecuali dengan orang-orang yang ada saat itu, tak terdengar jelas ucapan dari mulut mereka, karena menurutku tidak semua ucapan itu adalah penting, meskipun sedikit naif untuk menyadari hal ini, karena jika didengarkan dengan baik, itu semua merupakan informasi yang sangat penting, namun perhatianku tidak tertuju kesana.
Hingga aku sendiri tertegun dengan percakapan yang kudengar, tentang kesederhanaan seseorang, dengan kemampuan yang terbatas, namun ia bisa memanfaatkan seluruh waktunya untuk berarti bagi orang lain, dan tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang telah ia lakukan, murni atas pengabdian seseorang dengan perasaan yang ia rasa.
Mengurus seseorang bukanlah hal yang sangat mudah, mengingat itu adalah orang lain, bukan anggota keluarga sendiri, dan ia mengabdi kepada seorang kakek-kakek yang telah lanjut usia, yang waktu itu sedang berbaring di ruangan Rumah Sakit, dan tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan mengucapkan sebuah kata pun kakek itu tak sanggup, tetapi wanita itu tetap setia mengurusnya, bahkan suster Rumah Sakit itu pun kalah dengan pelayanan dan pengabdian darinya.
Keluarga dari sang kakek menyarankan agar wanita itu kembali ke Panti tempat dimana ia berasal, karena memang Dokter Rumah Sakit pun sudah tidak menyanggupi untuk menanggulangi penyakit kakek itu, namun wanita itu menolak dengan nada yang lembut, lalu mengucapkan beberapa kalimat, "saya tidak akan pulang dulu, nanti saja, saya sayang sama kakek. Saya akan pulang kalau kakek "pulang".
Aku tertegun mendengar semua kata-kata itu, mengingat wanita itu bukanlah siapa-siapa bagi keluarga sang kakek, hanya seorang pekerja yang ditugaskan mengurus kakek keluarga itu. Tetapi kesederhanaan dan pengabdian yang diberikan begitu besarnya, hingga ia rela menghabiskan banyak waktunya untuk mengurus kakek itu.
Mataku berkaca-kaca setelah kalimat itu terucap, aku berfikir di dunia ini masih banyak orang-orang yang baik, orang-orang yang perduli terhadap orang lain, orang yang kurang mampu tetapi bisa memperkaya dirinya dengan memberi arti dan pengabdian. Bertolak belakang sekali dengan realita yang ada di kota-kota besar, termasuk kota yang aku singgahi sekarang, tempat dimana aku dilahirkan.
Fenomena ini begitu membuat aku tersadar akan banyak hal, dan mempertegas bahwa materi bukanlah segalanya, kebutuhan tidaklah selalu menjadi tuntutan, dan dengan kesederhanaan, hal sekecil apapun bisa menjadi sebuah hal yang sangat besar.
Semoga saja kedepannya aku dapat bertemu lagi dengan fenomena-fenomena seperti ini, dan bahkan aku sendiri yang membuat fenomena itu.

Semoga saja ..

Tuesday, March 9, 2010

Kontradiksi Akal dan Fikiran

Sekejap datang, dan tak pernah ingin pergi, selalu menjadi kontradiksi di dalam fikiran, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Semuanya berjalan sesuai poros, alur yang telah tertuliskan, serta drama yang dimainkan oleh beberapa aktor yang terlibat.
Sampai dimana titik akhir, serta sebuah pencapaian telah dirasakan, tanpa diketahui sebelumnya bahwa yang terjadi harus seperti itu, dengan melewati berbagai jalan yang tidak terduga sebelumnya.
Kemanapun angin berhembus, disitulah tanda kehidupan, karena masih merasakan angin tersebut berhembus, air yang mengalir seakan tidak pernah perduli, atau bahkan manusia-manusia itu yang tidak menghiraukannya.
Sesuatu yang telah didapat, ternilai selalu kurang, ingin melebihi dari pencapaian tersebut, itulah kontradiksi.
Dimana fikiran dan hati tidak dapat dicampurkan, seperti minyak dan air, sulit untuk menyatu, sulit disini bukan berarti tidak bisa. Dalam kehidupan kita mengenal segala kemungkinan dapat terjadi.
Mengenal sebuah kontradiksi, dimana itulah sebenarnya proses pendewasaan. Ketidaksesuaian antara fikiran serta hati dapat terasa ketika sebuah proses atau praktek pencarian fakta dilakukan, dimana tersimpan keraguan, ketidakyakinan akan sesuatu, atau bahkan spirit yang menggebu-gebu.
Sering sekali manusia melakukan sesuatu, tanpa menyadari bagaimana pandangan ataupun perasaan manusia lainnya, dan ketika dalam penuntutan sebuah hak itu bersinggungan dengan hak-hak manusia lainnya. Disinilah fungsi otak dari seorang manusia, digunakan untuk berfikir. Pergunakanlah apa yang telah diberikan, manfaatkan apa yang telah didapat, dan fikirkan fungsi dari itu semua guna mempermudah segala hal. Karena sering manusia itu kebingungan dengan fikiran dan logikanya sendiri, sehingga selalu menilai segala sesuatu itu tidak pernah cukup.
Ketidakpuasan dalam diri bisa dikikis dengan sebuah sikap yang selalu mensyukuri dalam mendapatkan apapun, ketika kita mendapatkan sesuatu, anggaplah itu sebuah hadiah, dan jangan sekali-kali hadiah itu dijadikan sebuah tujuan, karena sampai kapanpun tidak akan pernah didapatkan arti dari hadiah tersebut jika itu dijadikan sebuah tujuan.

Setiap manusia memiliki akal dan fikiran,
tetapi tidak semua manusia selalu menggunakannya
dan mereka yang maju adalah mereka yang menggunakan akal dan fikiran sebaik-baiknya.

Tuesday, February 16, 2010

[cerita] Jawaban dari Sebuah Kehilangan

Mengawali hari-hari dengan berjalan tertatih, memaknai hidup dengan penuh determinasi, dan selalu berharap keberuntungan menghampiri, semuanya terasa benar, namun ketika ditunjukkan sebuah hal yang penuh romantisme, dan terlarut didalamnya, cahaya optimistis seakan terbenam ditutup aura gelap pesimistis.
Seseorang yang biasa saja, mendapatkan sebuah keberuntungan, yang dinilai tanpa melakukan banyak determinasi, hanya saja ruang berjalan dia berada di posisi yang tepat. Sisi romantisme dimulai, kemenangan demi kemenangan terus ia dapatkan, yang membedakan, kali ini ia melakukan banyak determinasi, lalu itulah yang ia dapatkan.
Hatinya sangat penuh waktu itu, diisi perasaan-perasaan yang tidak pernah ia dapatkan, ia tidak sombong waktu itu, ia sangat tulus memberi dan menerima apa yang ia miliki dan apa yang ia dapatkan.
Kehilangan, yang berasal dari kata hilang, dan konon katanya hilang itu sebenarnya tidak ada, hanya yang tidak ada itu berubah wujud, ataupun tergantikan, seperti plastik yang dibakar, sebenarnya plastik itu tidak hilang ketika dibakar, hanya saja berubah bentuk menjadi molekul-molekul yang lebih kecil, bahkan hampir tidak terlihat. Itu analoginya, hingga nanti terdapat pembenaran-pembenarannya.
Berbicara tentang kehilangan, yang paling benar adalah semua orang memiliki ketakutan akan kehilangan, apapun itu. sama seperti dia, selalu takut akan kehilangan seseorang yang ia dapatkan secara keberuntungan itu, tanpa tersadar bahwa setiap langkah dan gerak gerik memiliki konsekuensi yang beragam.
Ada awal ada akhir, ada pertemuan ada perpisahan, tak selang beberapa tahun setelah itu, dia merasakan kehilangan yang sangat dalam, yang sebenarnya bukan kehilangan ataupun hilang, tetapi pergi dan ditinggalkan, itulah kenyataannya. karena logika mengatakan seorang manusia tidak mungkin menghilang.
Sepucuk surat dimulutnya, gelang hitam ditangan kanannya, amanat yang dijaganya, serta tanggung jawab yang ditanggungnya, masih kokoh dibalik hatinya yang rapuh, hatinya yang remuk, tertinggalkan waktu, yang tak beralasan.
Saat mulai berlari, ia tak sadar jika itu jalan yang berlawanan arah, sampai kapanpun tidak akan pernah ada titik temu, namun dengan determinasi yang sangat kuat, ia yakin akan bertemu kembali dengan apa yang ia dapatkan dengan keberuntungan itu.
Sampai dimana waktu yang berbicara, yang menjawab determinasi itu, yang seakan meyakinkan dirinya bahwa determinasi itu tidak ada apa-apanya tanpa keberuntungan.
Waktu juga menyadarkan dirinya bahwa semua yang ia miliki dahulu bukanlah sesuatu yang dapat ia miliki selamanya, segala sesuatu ada pemiliknya.
Tidak ada yang hilang, namun perpisahan, selama-lamanya.
yang didapatkan dengan keberuntungan itu telah diambil oleh pemiliknya.
hanya tersisa raga, tanpa nyawa, dan tak berarti apa-apa.
namun sekarang hanya tinggal nisan, juga tangisan dari mereka yang terambil
Juga kisah, bahwa dirinya memiliki determinasi dalam pencapaian sebuah harapan, meski terlihat samar dan terkesan tidak akan mampu dilewati, tetapi determinasi itu masih hidup untuk menggerakkan dirinya bertemu harapannya, sangat disayangkan keberuntungan tidak ikut serta menghiasi determinasinya itu.
ia dapatkan sebuah jawaban, meskipun menyakitkan, namun itu adalah sebuah pencapaian dari sebuah usaha, yang setidaknya akan lebih kecewa jika ia tidak tahu alasan seseorang yang didapatkannya secara keberuntungan itu pergi meninggalkannya.
dia, makhluk dengan determinasi tinggi, tetapi rapuh ..

Monday, February 8, 2010

Uruslah Urusanmu, Pentingkan Kewajibanmu juga Hak Orang Lain

Sulit memang ketika situasi dan keadaan mengancam sebuah kedudukan, sampai melupakan kewajiban serta hak orang lain, benar adanya ketika mereka mengurus hak-hak dari mereka sendiri, tetapi jangan lupa bahwa dibalik hak-hak kalian itu ada hak dari orang lain, bukankah itu sudah diterapkan dari zaman duduk di bangku sekolah yang paling dasar, tentang hidup bertenggang rasa, keselarasan hidup, dan semua yang tercakup dalam pendidikan ..
Inti dari pencarian itu bukanlah titik dari sebuah masalah, namun solusi dari permasalahan tersebut, serta tindak lanjutnya seperti apa, bukan berputar-putar di sekitar permasalahan itu, bukan penyelesaian yang didapat, tetapi pro dan kontra dari berbagai kalangan, yang akhirnya akan menyudutkan seseorang.
Bukankah lebih penting memperbaiki kerusakan, meningkatkan kualitas dan fasilitas, dan setiap permasalahan dijadikan referensi untuk bergerak dan berfikir lebih inovatif, tetapi ini malah dijadikan sebuah opini publik yang benar-benar membuat miris yang mendengar, dengan menilai secara subjektif, hanya ditujukan pada satu sudut pandang saja, tanpa memikirkan bagaimana tindak lanjut sebuah permasalahan, ingat selalu fakta sosial ini, ada sebab dan akibat, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Seseorang dapat berkata sesuatu karena memiliki alasan, bukan tanpa tujuan, dan hanya berdasar intuisi. Jika tidak ada kesalahan tidak mungkin seseorang akan memaki, ketika tidak ada kesempatan maka seseorang tidak akan berkembang, juga tidak ada permasalahan tanpa penyelesaian.
Hemat saya, urus saja urusan-urusan masing-masing, dahulukan kewajiban dan hak orang lain, yang lebih penting, karena ketika kita membicarakan hak, kita sudah mendapatkan itu sejak kelahiran, namun berbicara soal kewajiban, itulah jalan pilihan dari hak kalian, sehingga menjadi tanggung jawab bagi kalian sendiri.
Ketika kita menginjak bangku sekolah, sudah menjadi hak kita untuk mendapatkan pendidikan, tetapi jika tidak mendahulukan kewajiban kita (belajar) setelah mendapatkan hak itu, apa jadinya ?? Ketika kita menjadi dosen, kita memiliki hak untuk mendapatkan gaji, lalu kewajibannya adalah mengajar ..
Coba perhatikan 2 hal tersebut, jika kita mengambil dari satu sisi, kita mengambil hak pendidikan, tetapi kewajiban tidak dijalankan (belajar), apa yang dapat diambil ?? terbodohi selalu mungkin ..
ketika kita menjadi dosen dan akan mendapatkan hak (gaji), tetapi kewajibannya tidak dilakukan, akan mendapatkan gaji jika tidak mengajar ?? tetapi jika kita mendahulukan kewajiban, semuanya akan terjawab .. 2 hal diatas, jika kita mengutamakan belajar, maka ilmu yang diterima dari sistem pendidikan pun akan sangat berguna, faktanya, banyak orang sukses karena belajar, bukan karena sekolah..
jika berfikir sekolah atau pendidikan yang tinggi akan menjanjikan kesuksesan, mungkin hal ini adalah relatif, tetapi coba fikirkan, jika kita mempunyai kesempatan untuk bersekolah atau berpendidikan yang tinggi, bahkan sampai ke luar negeri, bisa dilakukan tanpa belajar ?? Pernahkah terfikirkan bahwa orang-orang sukses yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri itu asal muasalnya bagaimana ?? jawabnya, tanggung jawab dengan kewajibannya ..
Mengapa ?? Coba tanyakan pada diri sendiri ..
mungkin yang membaca ini dan sudah sukses akan tersenyum ..
mungkin juga jika yang membaca ini dan belum sukses akan tersadar akan kewajibannya, sebelum memperjuangkan haknya. semoga saja

itulah pilihan ..

Saturday, February 6, 2010

Ketua dan Sekjend BEM Fikom Periode 09/10 ..








MENJEMBATANI SELURUH MAHASISWA FIKOM UNISBA UNTUK BERGERAK BERSAMA MENUJU PERUBAHAN YANG LEBIH MAJU DAN SIGNIFIKAN.

Mohon doa dan dukungannya kawan-kawan ..

Thursday, February 4, 2010

Terjebak Wacana ..

Satu pengartian kembali didapatkan dari hasil penelusuran selama ini, tidak terlalu buruk memang, namun cukup memperjelas, apapun itu memang sebuah fakta lebih aku sukai dan akan terus aku sukai daripada sekedar wacana, bahkan banyak wacana .. Karena ternyata aku pun terjerumus didalam kata ini, sebuah perkiraan yang ternyata aku sendiri dapat mendapatkan hasil yaitu kesalahan dari hasil tafsir selama ini. Cukup miris melihat realita yang ada, dan andai saja langkahku waktu itu tidak untuk mencakup yang lebih besar lagi, tanggung jawab, disini memiliki peran penting dalam segala yang ada sangkut pautnya terhadap hidupku. Cukup untuk mengusap dada, dan lebih bersyukur karena aku tidak terjebak dalam wacanaku sendiri, mirisnya, aku terjebak wacana orang lain.
Harapanku setelah itu, hanyalah dapat membedakan dimana posisi-posisi dari sikap serta ucapan dari apa yang ada disekitarku, karena ternyata, fakta sesungguhnya telah didapatkan, bahwa apa yang dikira itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan, dan masih banyak orang-orang yang hanya memiliki wacana untuk dijadikan modal senyuman palsu dan menaikan harkat martabat, dengan nilai-nilai yang mencelakakan keadaan, hingga menyakiti massa.
Tidak membicarakan seseorang atau satu pihak saja, tetapi lingkupnya banyak, dan aku yang berdiri kokoh yang mungkin dianggap badut oleh mereka itu telah mendapatkan apa yang aku dapat, hingga yang berlalu seperti wacana ataupun sikap yang membuat aku kokoh itu seolah hilang dengan berbagai macam ketidakadilan dalam bersosial, berbicara soal kebenaran, yang setiap saat selalu bersifat relatif, dan saat hal yang bersifat normatif selalu disangkut pautkan. Benar adanya kebenaran tidak pernah berpihak, namun kemenangan bersifat mutlak, dimana itu telah terjawab sebuah fakta yang dapat mematahkan semua teori-teori ataupun wacana yang tidak jelas.
Pembenaran adalah sesuatu yang penting dalam berwacana, namun tidak akan berarti apa-apa jika hal itu diutarakan kepada mereka yang tidak mengerti, ibarat sebuah perhatian yang dianggap sebuah pengekangan, sebuah permohonan yang dianggap sebuah pemaksaan, sebuah permintaan yang dianggap perampokan, dan sebuah pemberian dianggap pembayaran.
Kiranya kita harus dapat memilah dan memilih apapun itu, sehingga tidak terjerumus dalam suatu lembah kelam yang dapat membuat diri mengenal suatu kata penyesalan, pembacaan dan penafsiran haruslah dilakukan dengan cara yang sangat benar, pembedaan antara wacana, doa, dukungan, dan bantuan, karena semua seakan terlihat sama, tetapi faktanya dapat bersifat kamuflase. Dan untuk semuanya, semuanya, berhati-hatilah dalam lisanmu, sebelum itu menyakiti massa, menyakitimu.

Wednesday, January 13, 2010

the Other Side of ...

tak lama setelah perjalanan panjang ., ada kalanya itu harus beristirahat ., tapi ku hanya berharap tidak semuanya berjalan lamban ., dimana titik itu ada ., harus ada pula titik dimana aku berdiri ., dan meneruskan segalanya ..
mengharapkan semuanya terasa indah ., dengan suatu hasil yang sangat signifikan ., walau tak kunjung tiba ., aku rindu itu .. sungguh rindu ..
awal ku diam ., awal ku bicara ., namun satu inti dibalik itu semua ., aku kesepian ..
sekiranya aku bisa memberi solusi ., terkecuali pada diriku sendiri ., semua seakan hilang tertiup angin ., tersapu ombak ., terbakar api ., terkubur tanah ., dan kiranya ku dapat terus berdiri melawan itu semua selama mungkin ..
tak pernah terpikir olehku ., dimana seharusnya aku bukanlah seorang aku yang sekarang ., dengan semua aku di dahulu ., seharusnya aku memiliki sifat serta sikap yang dapat terbilang abnormal ., namun semuanya ku tepis ., dimana aku membentuk diri secara sengaja dengan dibekali akal serta fikiran yang selalu membawa ke jalan yang lebih logis .,
menetap di sebuah pulau dan berharap hanya 1 orang yang mengerti itu menemani aku ., selamanya ., sekiranya itu sekarang terfikir masih jauh ., dan semakin jauh ., menepis semua angan dan harapanku ., walau kubenci hal yang membunuh suatu harapan ., tetapi tak dapat tersangkal ., harapanku telah ternoda ..
tak ada sama sekali keberadaan diriku yang dapat kubanggakan ., semuanya terlihat semu ., terlihat abstrak ., pola fikir yang luar biasa pun tak pernah dihasilkan oleh otakku ., perkataan bijak tak pernah aku lontarkan ., sikap yang terpuji tak pernah aku tunjukkan ., tidak ada yang menarik didalam diriku ..
sekiranya semua mengira akulah si pesimis itu ., tidak .. sungguh ., aku hanya sedikit meneteskan air mata meskipun tanganku masih mengukirkan tulisan ini .. aku masih sanggup berjalan ., bahkan berlari ., aku hanya merasa kesepian ..
aku tak pernah berharap diperdulikan dimanapun ., namun kiranya aku yang berusaha perduli dan mengerti apapun ., dan aku berusaha untuk tidak menjadi seorang munafik ., bahwa sedikitnya aku pun ingin wadah untukku sendiri berbagi ., berbagi semua keluh kesahku ., berbagi kekesalanku ., berharap solusi ., bukan hanya jawaban "sabar ., takdir ., nasib ., dsb" .. aku sudah tahu dengan kata-kata itu semua ., aku mengerti ., aku hanya ingin solusi ..
mengapa ?? apakah aku terlalu kaku ?? terlalu monoton ?? terlalu membingungkan ?? terlalu aneh ?? terlalu menyedihkan ?? terlalu kasihan ?? aku tak pernah menganggap itu semua ., aku sama seperti kalian ., dilahirkan ., dibesarkan ., disekolahkan ., lalu apa ??
malas dengarku cerita ?? ya ., karena ceritaku selalu berbeda ., kenapa ?? terlalu panjang ., ya ., agar kalian mengerti ., kenapa ?? aku mengharap solusi ..
andai itu semua dimengerti ., pasti yang mendengar memelukku ., tidak menyangka bahwa itu aku ., bertolak belakang dengan semua senyumku ., berbeda dengan keadaan yang ada padaku ., mungkin juga dianggap cerita ngawur ., history pahit ., atau bahkan mengada-ada ., disebutlah aku makhluk kaku ., disebutlah aku makhluk pendramatisir ., disebutlah aku romantis ., disebutlah aku pesimis ., atau bahkan optimis ., disebutlah aku tegar ., disebutlah aku rapuh .,
yang jelas aku .,
kesepian ..

Thursday, January 7, 2010

Politik Kampus (Fikom Unisba) yang Membingungkan

Diskusi telah dilakukan ., rekomendasi telah disebutkan ., dan solusi telah ditemukan ..
aku kira sebelumnya ., bahwa ini semua berkaitan dengan kepentingan ., ternyata tidak ., mereka yang mendukungku menyuarakan demi kepentingan Fikom Unisba ., mereka hanya menitipkan aspirasi serta masukan untuk Fikom yang lebih baik ., tidak ada kepentingan organisasi yang lainnya ., sungguh mencengangkan ., karena itu sebelumnya dipandang sebelah mata oleh banyak kalangan ., namun faktanya ., tidak sama sekali ..
Diskusi itu dilakukan hanya 6 orang ., yaitu aku ., Levana ., Ucup ., Hari ., mereka bertiga adalah pengurus BEM Fikom periode 2008-2009 ., dan 2 orang lagi ialah Vidi (Aktifis kampus dari organisasi FAMU) dan juga Ipuy (Nurani Fitri) sebagai ketua DAM periode 2009-2010 .. semuanya menyuarakan bagaimana nasib Fikom di generasi kita ., 2007 ., serta peta kekuatan dari 2007 sendiri ., sehingga muncullah rekomendasi agar aku maju untuk mencalonkan diri menjadi Calon Ketua BEM Fikom .,
namun karena ada sesuatu hal yang membuat aku tidak bisa mencalonkan sebagai ketua BEM Fikom ., selanjutnya aku merekomendasikan Levana untuk maju menjadi calon Ketua BEM Fikom selanjutnya ., lalu mereka ber 5 merekomendasikan aku untuk menjadi SekJend periode kepemimpinan Levana ., sekaligus mendampingi serta mem-Back up Levana ., dan Levana pun mengaku siap ., aku sendiri ., siap ..
untuk semuanya ., semuanya ..
mohon doa serta dukungannya ., agar semua rencana ., harapan ., serta impian kita terwujudkan ., guna memajukan Fikom Unisba .,
aku menjanjikan sebuah fakta ..
dimana semua tanggung jawab itu akan direalisasikan ..
tidak ada kata No Action Talk Only ..
dan tidak ada kata Bacot ON Skill OFF

tetapi semuanya akan dibayar oleh Fakta ..
karena aku mencintai sebuah Fakta ..
semoga saja ..

Friday, January 1, 2010

Dua Ribu Sepuluh

hari berganti ., bulan berganti ., tahun pun berganti .,
ganjil berganti genap ., jalan terlihat panjang ., semakin banyak pilihan.. itulah hidup ., namun patut kita isi dengan penuh makna ., demi satu tujuan ., kebahagiaan ..
satu tentang semuanya ., arti hidup ., penuh dengan paradigma ., serta kamuflase yang dibuat diri serasa indah ., sehingga semuanya terlihat rumit ., sulit .,
namun itu semua tidak akan terlihat seperti itu ., jika kita dapat menggenggam satu ., yaitu kunci ., kunci dari kehidupan ., kehidupan yang diinginkan .. sehingga dapat mengenal diri serta apa yang ada pada pandangan kita ..
untuk apa hal yang tidak penting dipertanyakan ?? tetapi hal penting tidak dilakukan ., untuk apa memikirkan yang tidak penting ., jika tujuan ditelantarkan ., terasa makhluk berlogika ., namun kalah oleh logika nya sendiri ., terasa memiliki retorika lebih ., namun tidak ada yang dapat diperbuat ., mempertanyakan kondisi terhadap orang lain ., namun dengan semua omong kosong ., sekiranya dapatlah memikirkan sebelum apa itu akan terucap ., sebelum lingkarannya menertawakannya ..
dengan ini tidak perlu berlebih ., seperti kata mereka ., hanya kata "cukup" untuk membawa kita menuju gerbang kebahagiaan .. tidak perlu berlebih kiranya untuk menjadi superior ., cukup memanfaatkan apa yang ada dalam diri ..
semoga di tahun 2010 ., kita semua menjadi manusia yang superior .,
yah .. superior ..

Saturday, December 26, 2009

MENCOBA MEMAHAMI PEREMPUAN

Bacalah, dengan sedikit saja harap-harap cemas.

Bisakah Anda memahami perempuan? Saya segera melarikan diri jika ada yang menjawab bisa. Bukan karena membingungkan, tapi karena perempuanlah makhluk yang paling ambigu. Kita tidak pernah tahu pentingnya mereka bagi kita sampai kemudian kita kehilangan mereka. Kita tidak akan pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia berpakaian seksi, kelayapan di mall, tapi menolak untuk dipelototi. Kita juga tidak pernah bisa memahami kenapa mereka bersedia melakukan operasi pengencangan payudara (artinya payudara mereka selanjutnya terbuat dari plastik, sama dengan ember) padahal mereka tahu bukan bagian itu yang membuat kita mencintai mereka.

Saya tidak pernah bisa memahami mereka. Dan tidak ingin mencoba lagi. Bukan karena saya kapok. Tapi karena saya tidak akan pernah bisa. Bisakah Anda memahami kenyataan berikut ini: mereka sangat seksi dengan pakaian dalam miu-miu tapi menjadi biasa saja ketika telanjang bulat? Mereka bisa sangat menggairahkan dengan rok yang tersingkap sedikit saja dan memaksa kita berpikir yang tidak-tidak, tapi kemudian malah terlihat lucu ketika telanjang sebab ada sisa lemak di sana-sini. Mereka jugalah yang bersedia memakai bra dengan penopang kawat, supaya kita memperhatikan dan mengaguminya dengan takjub. Minimal supaya kita tidak melihat ’isi kawat’ tetangga.

Bisakah Anda pahami semua itu?

Semua perempuan matre: sebab mereka menyukai keindahan, dan keindahan adalah daftar harga yang harus kita bayar. Hanya alam yang memberikan keindahan secara gratis, meskipun jalan menuju ke sana tetap harus bayar. Semua perempuan suka dipuji: sebab mereka menikmati pujian. Tapi pujian yang berlebih dan tidak tepat waktu justru membuat mereka jengah. Pujian Anda akan dimaknai gombal, walaupun mereka tetap suka digombali. Hampir semua perempuan mencintai anak kecil, dan mereka jugalah yang mengidap baby blues. Hampir semua perempuan mengatakan hal ini: gue capek nangis mempertahankan hubungan kita. Dan itu dikatakan sambil menangis. Hampir semua perempuan mengidap sindroma ini: pada usia 17 – 23 tahun selalu come up dengan pertanyaan siapa el-lu. Pada usia 24 – 29 tahun come up dengan pertanyaan siapa gue. Pada usia 30 – 35 tahun come up dengan pertanyaan siapa aja deh pokoknya kimpoi.

Hampir semua perempuan menangis usai mengucapkan ijab-kabul, dan membiarkan kita bingung sendiri mengartikan tangisan itu ekspresi rasa gembira atau ekspresi menyesal telah menikah dengan kita. Perempuan jugalah yang dianugerahi kelebihan terutama mencium bau busuk selingkuh kita. Sesekali mungkin Anda bisa menipu mereka, tapi mereka cepat belajar. Perempuan jugalah yang sanggup datang menemui wanita selingkuh kita, mengajaknya belanja dan nyalon bersama, mengajaknya meni-pedi, sambil meminta si wanita melepas kita untuk kembali ke rumah secara baik-baik, dan tak bercerita apa pun ke kita karena justru selingkuhan kita yang bercerita. Perempuan jugalah yang bisa menahan rasa sakit 9 kali lebih baik dari kita pria.

Masihkah Anda berusaha memahami mereka?

Usaha memahami perempuan, sejatinya, bukan usaha yang sia-sia. Minimal kita tahu pada akhirnya kita selalu gagal memahami mereka. Mereka bisa sangat tahu hadiah apa yang kita butuhkan di hari ulang tahun kita. Tapi kita harus bertanya ke temannya hadiah apa yang pas untuknya di hari ulang tahunnya. Kita menyerahkan sepenuhnya kepada mereka pilihan film yang akan ditonton, dan sesampai di dalam kita memikirkan hal lain yang tidak berhubungan dengan film tersebut. Ketika mereka bertanya apakah kita menikmati filmnya, dengan semangat tipsani (tipu sana-sini) kita berujar: owh, tentu. Kamu yang milih kan. Kita tidak berani mengatakan film itu membosankan, hanya karena kita tidak ingin menyinggung perasaan mereka. Kita selalu mengganggap mereka fragile, lemah. Tapi ketika mereka mengatakan enough is enough, kita yang datang menyembah termehek-mehek dengan janji sejuta surga. Anehnya, kadang mereka percaya akan ada sejuta surga.

Jika ada orang ke tiga di antara kita dan mereka, biasanya kita menyelesaikannya dengan ancaman, dengan hardikan. Sedangkan mereka menyelesaikannya dengan cara yang lebih elegan: mandi selama mungkin, berdandan secantik mungkin, tersenyum seyahud mungkin, dan menyapa seindah mungkin. Mereka hendak mengatakan, hei..., see, saya lebih cantik dari perempuan yang hendak mengganggumu itu. Cupunya kita, men’s talk selalu sekitar paha dan dada: siapa sudah mencicipi siapa, siapa sudah merasakan siapa, siapa dengan ukuran berapa, siapa sempit siapa lebar, siapa basah siapa kering –seakan-akan ukuran, sempit, kering menjadi penting kalau tidak akan terjadi kiamat. Sementara girl’s talk selalu tentang siapa lebih charming dari siapa, siapa yang ingin mencium siapa. Sesekali mereka juga membahas ukuran, tapi biasanya dilakukan untuk lucu-lucuan saja.

Kita sering membahas ukuran mereka. Padahal ketika ’pertandingan mencangkul sawah’ dilaksanakan, kita jarang ’menunggu’ mereka. Bagi mereka, keluar bareng adalah ekspresi cinta sejati. Tapi bagi kita keluar bareng adalah ekspresi usai nonton bioskop. Ini bukan soal jender, tapi kenyataan bahwa kita tidak mampu memahami kedalaman cinta mereka. Kita selalu mahir berkisah tentang pekerjaan-pekerjaan kita, tentang dunia yang hendak kita raih, dengan sedikit bumbu di sana-sini, dan mereka kita minta mendengarkan saja dengan takjim. Ketika mereka bercerita tengtang Zara, tentang Nine West, kita mulai menempelkan stiker matre ke kening mereka. Padahal, hei, mereka menyukai keindahan, yang ujung-ujungnya akan dipersembahkan kepada kita. Kita saja yang tidak mampu memahami maknanya.

Pernahkah Anda memeriksa fakta berikut ini: dibanding ayah Anda, ternyata Ibu Anda lebih sering tidur belakangan untuk membenahi semua hal, dan bangun lebih dulu untuk memulai semua hal. Periksa baik-baik fakta berikut ini: dibanding ayah Anda, ibu Anda lebih sering mengkhawatirkan keselamatan Anda!

Tahukah Anda kenapa perempuan suka menggunakan pakaian dalam warna hitam? Selain karena terlihat seksi, elegan, dan penuh misteri, juga karena mereka ingin menghidupkan kenangan kita akan emak kita dulu. Selalu ada sifat kanak-kanak dalam diri semua laki-laki, dan selalu ada sifat ingin diasuh, oedipus complex, dalam diri kita. Dan mereka tahu itu. Mereka mungkin menyukai warna biru, sesekali warna krem atau pink dengan renda di sekeliling untuk membantu menghiasi hari-hari mereka. Mereka mungkin saja memilih warna putih untuk memulai hari. Atau warna merah tua ketika mereka ingin tampak seksi. Tapi warna hitam tetap favorit mereka. Satu dari satu perempuan mempunyai pakaian dalam warna hitam. Jangan tanyakan ke mereka, karena mungkin saja mereka sedang memakainya.

Jangan karena ayat suci menyatakan ”istrimu adalah sawah, cangkullah sesukamu’ maka kita merasa mendapat hak untuk menghampiri mereka kapan saja di mana saja. Tidakkah Anda cukup mendapat informasi bahwa seminggu sebelum dan seminggu setelah mereka period adalah masa emas mereka untuk ’dicangkul’? Tidak perlu menjadi ahli roket untuk mengetahui hal remeh itu. Mereka bahkan bersedia mengingatkan kita akan tanggal-tanggal keramat itu. Pada tanggal 23 setiap bulan mereka akan suka cita berkata eh, tanggal 25an aku period loh. Ketahuilah, itu sign, tanda, bukan tanggal gajian.

Begitulah, kalau Anda masih mampu selingkuh setelah mendapatkan pelayanan sehebat itu, kini justru Anda yang sulit saya pahami.

repost from http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2355677

sakit ., lama-lama mati jika terus seperti ini

sekian lama dari perputaran waktu yang terjadi di dunia ini ., serta tempat yang kita singgahi ., bumi ., sungguh ada terlihat suatu waktu yang terbuang dengan sangat sia-sia ., tidak dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat ., semuanya terasa mati ., tiada kehidupan disini ., tetapi itu justru menjadi suatu kebiasaan dari makhluk tanpa fikiran yang dinamis ., tidak memiliki otak yang cukup inovatif untuk melakukan sesuatu ., kreatifitas juga minim ., mungkin itulah tepatnya ..
situasi dan kondisi seperti ini sungguh sangat banyak kita jumpai dari hari senin hingga minggu ., dari januari sampai desember ., dan inilah dipenghujung bulan itu ., sabtu ., cuaca seakan tidak pernah mendukung untuk hari ini ., maaf ., aku tidak pernah ingin memaki atau menggerutu pada cuaca ., karena disitu aku melihat keesaan Tuhan ., hanya saja aku ingin ini berjalan lebih baik ., aku tidak ingin mati didalam kamarku sendiri ! dan terlebih aku tidak ingin mati sekarang ! sebab lama-lama seperti ini dapat membuatku mati ., hal seperti ini dapat membuatku seperti tidak ada kehidupan sama sekali ., bahkan aku menganggap diriku ini mati ..
where's my friends ?? semuanya sedang sibuk dengan urusannya masing-masing barangkali ., atau mungkin mereka malas untuk mengajakku beraktifitas ., entah karena apa dan disebabkan apa ., bertanya sana-sini hanya dijadikan becandaan ., padahal aku mengharap sebuah solusi dimana aku dapat keluar dari situasi seperti ini ., sekali lagi aku ucapkan ., aku tidak ingin mati sekarang !
di malam yang selarut ini baru ada solusi yang tepat ., ahhh ., hanya ini ternyata yang tersisa ., untuk selanjutnya juga seperti ini saja ., mungkin hanya ini juga yang dapat menampungku ., mungkin .,
jenuh ., mungkin karena banyak fikiran-fikiran yang menggangguku.,tetapi untuk esok ., dan seterusnya ., hal seperti ini tidak akan terjadi lagi ..
tidak ..
 
 
Blogger Templates