Jika tidak, tak mengapa.
Thursday, December 22, 2016
Gayung Bersambut
Jika tidak, tak mengapa.
Saturday, April 30, 2016
Satu Kalimat Yang Tak Sempat Kuucap
It has to end to begin. Hanya awal yang menjadi begitu sangat indah. Akhir ini pahit, meski sudah pernah aku duga. Ia yang mengakhiri cerita ini bukan dengan cara berpaling, bukan dengan penolakan. Ia mengakhiri dengan elegan; menerima pinangan pria yang bukan aku. Aku kalah, meskipun ini bukan kompetisi. Aku marah, namun entah pada siapa. Aku lemah, walau tak ada yang menekan. Sebab mungkin karena aku tak mampu untuk menyalahkan siapapun, menyalahkan apapun selain diriku sendiri. Padahal hanya dia yang benar-benar kuinginkan, namun Tuhan tidak menghendaki.
Hanya sanggup sampai tahap mencintai, namun untuk dapat memilikimu butuh lebih dari sebuah mukjizat. Tuhan maha mengetahui, termasuk doaku, namun tampaknya ia lebih senang menyelamatkanmu agar tidak bersamaku.
Aku tak pernah bicara pengorbanan, sebab apalah kemurnian dari sebuah pengorbanan jika dihitung. Aku juga tak pernah bicara cinta, sebab apalah arti cinta jika diucapkan saja tidak pernah. Meskipun aku pernah bermaksud untuk mengucapkannya padamu, namun Tuhan benar-benar menyelamatkanmu. Kau tentu ingat saat kepulanganku dari Jepang, dan sakitmu saat itu adalah bentuk penyelamatan dari Tuhan sehingga kau tak dapat kutemui hingga waktu liburmu telah habis. Kau pun kembali ke Jerman. Tuhan juga tahu bahwa aku akan terluka, hanya saja aku yang terlalu bodoh menyadari itu semua, melawan kehendak-Nya. Tuhan tahu karena selalu ada namamu dalam setiap doaku. Setiap doa demi kebaikanmu pasti Ia kabulkan, namun doaku untuk dapat memilikimu tidak Ia hiraukan. Yang berarti bahwa aku bukanlah kebaikan tersebut. Pria yang kau pilihlah kebaikan itu.
Tidak mengapa, hidup tak terlalu jauh dengan luka, setidaknya bagi diriku. Pain made me grow up. Dan asal orang yang dicintainya bahagia, bukan? Aku tak pantas menangisi, kau tak pernah menyakiti. Aku tak pantas bersedih, pilihanmu ialah doaku juga. Namun aku tak dapat memungkiri bahwa aku sedang berusaha berbahagia, walau nyatanya aku tak mampu. Aku pikir ini cinta, entahlah. Yang jelas untukmu kubuatkan buku saat yang lain hanya kubuatkan puisi, kubuatkan syair.
Pada akhirnya Tuhan mengabulkan doaku untuk dapat melihatmu, menemuimu. Bukan di The Loft tempat kita pertama kali makan malam, bukan pula di Sober tempat kau habiskan rasa penasaran. Atau, di manapun tempat aku bisa utarakan kalimat yang tak sempat kuucap, bukan. Aku melihatmu saat kau bersanding dengan pria pilihanmu. Aku menemuimu sebagai tamu. Yang artinya, itu mungkin menjadi yang terakhir kalinya aku menemuimu. Tak akan kutulis selamat berbahagia di sini. Seperti kubilang, selalu ada namamu dalam doaku.
Sunday, December 6, 2015
Membirukan Senja
Tidak sedang memerankan seorang tokoh, menjadikan alur terjadi seperti sur-realisme bukan pula menjadi tujuannya, namun akhir adalah akhir. Mungkin mereka dapat menyimpulkan tentang pertemuan berikutnya, kejutan selanjutnya, kemungkinan yang tidak pernah menurutkan harapan, yang sebenarnya hanya sebuah angan belaka, tak lebih. Ketika dibenturkan dengan kenyataan sesungguhnya, saat merasa bahwa hidup ini ternyata penuh omong kosong, diisi melulu soal kekecewaan, tidaklah terlalu kejam untuk memaki bahwa hidup tak pernah adil. Hanya raut muka yang dapat menutupi, namun perasaan tak dapat dipungkiri. Kopi pahit tetaplah pahit, tidak bisa berpura-pura bahwa itu manis. Pun kebahagiaan, kesedihan tetaplah menyedihkan, tak seharusnya berpura-pura bahagia. Adapun yang bisa seperti itu, ia hanya sedang bersandiwara. Dan sandiwara terburuk dalam kehidupan yaitu berpura-pura bahagia.
Kita pernah bahagia, kita harus. Kita pernah sedih, kita juga harus. Lalu seperti apa bahagia itu? Sebuah tujuan kah? Atau sebuah hadiah? Yang kita tahu, setiap mencapai tujuan tidak selalu mendapat hadiah, dan saat mencari hadiah belum tentu itu menjadi tujuan. Namun sepertinya kekecewaan sering datang pada mereka yang menjadikan hadiah sebagai sebuah tujuan.
Seseorang pernah berkata, dan bahkan mungkin ia pernah melakukannya, bahwa perjuangannya bak membirukan langit senja yang jelas-jelas selalu merah. Perumpamaan yang bagus untuk sebuah kesia-siaan, konotasi tentang kemustahilan, yang juga menyimpan perasaan sangat mendalam, kesan yang tak akan terlupakan, dan ketidakberdayaan. Secuil saja harapan hinggap, selamanya ia akan berpikir bahwa itu mungkin terjadi. Hidup tak harus selalu begitu, sayang. Lebih baik jika keniscayaan kau gunakan untuk sesuatu yang lebih layak bagimu. Ada masa yang seharusnya tidak diulang kembali. Jika itu manis nikmatilah, jika itu pahit telan sajalah. Keduanya sudah sama-sama kau ketahui di awal bahwa itu merupakan sebuah konsekuensi dalam salah satu dari ribuan tatanan kehidupan, juga representasi kehidupan. Only you can choose what you wanna see.
Aku selalu senang jika diharapkan, juga akan menjadi takut ketika terlalu diharapkan. besar-kecilnya harapanmu adalah yang menentukan tingkat kekecewaanmu. Dan tak ada yang lebih menyedihkan selain dikecewakan, aku kira. Bukan bagaimana dikecewakan, tapi seberapa besar harapan itu kau bangun. kau bisa menjadi apapun, tapi tak dapat membuat siapapun selalu seperti inginmu.
Mengharapkan akhir bahagia bukanlah sebuah ketamakan, semua berhak mendapatkannya. Namun jika itu bukan konotatif maka akhir bagi manusia berarti mati. Dan jika seumur hidup kita selalu memiliki harapan, mungkin tidak pada saat mati. Maka harapan ialah ciri kita hidup. Harapan membuat kita tetap hidup, namun juga bisa membunuh kapan saja. Banyak orang bahagia, dan tak sedikit pula yang menderita akibat mengejarnya.
Dan ingat senja yang selalu merah, walau kita terus mencoba membirukannya. Kesia-siaan itu berawal ketika kita menganggap manusia seperti senja, kenyataannya kita bukanlah senja. Kita berusaha membirukan senja padahal selalu tahu bahwa senja hanya akan melegam.
Monday, October 26, 2015
Thursday, July 30, 2015
Pengakuan Seorang Pecundang
Duduk menunggu antrean biasanya menyebalkan, sebelum akhirnya tiba seorang Ibu duduk di sebelah saya lalu mengajak saya ngobrol. Panjang kami mengobrol hingga akhirnya ia bertanya tentang pernikahan. Saya pun menjawab jika saya tidak terlalu tertarik dengan pernikahan, ia tanya kenapa. Saya hanya tersenyum, kemudian ia memberikan sedikit statement bahwa pernikahan itu mungkin dibutuhkan, selain untuk memiliki keturunan, juga untuk mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan tidak sepenuhnya benar, harus ada yang mengingatkan. Orang tua tak selamanya dapat menemani kita. Lalu ia tersenyum, ia pun bilang selama ini suaminya tidak banyak melakukan apa-apa, selain membantunya bahagia, itu saja lebih dari cukup, lalu kebahagiaan itu bertambah datangnya dari anak-anak mereka. Ia bilang tidak mau mati dalam keadaan sendiri, kesepian. Karena tidak ada penderitaan yang lebih mengenaskan daripada kesepian. Happiness is you've always known you're not alone.
Saya tersenyum, terharu..
Kemudian saya tersedak ketika Ibu tersebut bertanya apakah tidak ada wanita istimewa yang benar2 saya inginkan untuk menemani saya di kemudian hari. Saya jawab ada, namun saya sudah tekan perasaan itu beberapa tahun ini, saya hampir merelakannya, membiarkannya bahagia dengan jalannya sendiri, saya mencintainya.. namun saya tak mau terlalu memaksakan apa yang tidak saya sanggupi. Ia menanggapi, bahwa sebelumnya ia tak pernah mengira akan bahagia bersama suaminya, namun suaminya bisa membuat hal yang menurutnya tidak mungkin, menjadi sangat mungkin, dan ternyata ia bisa. Kemungkinan itu selalu ada. Saya malu, kemudian mengakui bahwa saya hanyalah seorang pecundang. Ia tertawa, disanggahnya saya bahwa saya mungkin hanya seorang pengecut, sudah melewati asam garam kehidupan tapi terlalu berhati-hati, takut menghadapi kenyataan, dan akhirnya tidak terlalu berani mengambil risiko. Saya tersipu, mengiyakan perkataannya. Kemudian ia pamit, entah kemana.
Banyak yang bisa saya petik dari obrolan yang tak terduga itu, namun sayangnya.. tetap tak dapat mengubah ketertarikan saya terhadap pernikahan. Iya, saya mungkin terlalu pragmatis.
Sunday, November 2, 2014
Promises
Friday, July 4, 2014
Kehadirannya part III..
Tuesday, September 10, 2013
1 Pilihan Pada 2 Mimpi yang Berbeda
Impian, merupakan pencampuran daripada hasrat keinginan dan susunan rencana-rencana ideal dalam rangkaian pikiran kebahagiaan yang dinilai dapat menciptakan sebuah ketenangan dalam diri, meskipun itu tidak menjamin segalanya. Impian tak melulu menjadi fatamorgana, impian dapat diciptakan, impian dapat diwujudkan......bagi mereka yang percaya tentunya.
Entah, bagi sebagian orang ketika mengingat impiannya sendiri merupakan sebuah kesedihan yang mendalam, seperti sebuah kekecewaan atas apa yang telah terjadi dan mempersalahkan langkah juga diri sendiri tanpa henti.
Perlahan, ketika mimpi itu mendekat pada sebuah kenyataan...sedangkan kondisimu sekarang sedang terisi mimpi lain yang kadarnya berbeda, tidak kurang, akan tetapi hasratmu pada mimpi yang mendekati itu menjadi lebih menggebu mengingat mimpi lain itu kepercayaannya pernah runtuh. Lantas apa sebenarnya yang terjadi ini?
Menjatuhkan 1 pilihan pada 2 mimpi yang berbeda, membutuhkan sebuah kebijaksanaan yang luar biasa. Kebijaksanaan tidak berdasar pada keinginan, kebijaksanaan tidak berdasar pada nafsu, kebijaksanaan tidak berdasar hasutan. Kebijaksanaan terlahir atas dasar pemikiran jernih seorang manusia yang mampu mempertimbangkan segala sesuatu dengan seluruh aspek positif serta negatif yang akan terjadi. Intinya, kebijaksanaan ini ialah memutuskan dengan menyesuaikan kemampuan.
Ini hidup, ini hidup.. Hal luar biasa apalagi yang akan terjadi di depan? Kompensasi atas seluruh kerja keras dan pembelajaran-pembelajaran hidup, akan setimpal.
Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, setimpal dengan apa yang telah kita lakukan.
Kita, makhluk lemah yang memiliki impian sangat besar, bahkan otak kita kadang tak mampu menopang mimpi tersebut, minimal menjadi kenyataan.
Tetapi ketika mimpi itu menjadi kenyataan, kita tak tahu harus berbuat apa....
Itulah salah satu bukti kelemahan...
Thursday, August 22, 2013
Urgently Required
Gue lagi butuh freelancer-freelancer nih yang udah berpengalaman atau yang biasa nge-eksekusi event/konser musik.
Domisili Bandung diutamakan, tapi kalo ga keberatan buat bolak-balik Bandung-Kota elo, ga masalah selama biaya ditanggung pribadi ya, tapi kalo sewaktu ditugasin biaya akomodasi, transportasi dsb ditanggung kantor.
Syaratnya ya itu, kalo orang EO pasti ngerti deh :D
- Siap diberangkatin ke kota manapun, pulau manapun di Indonesia dari Agustus akhir - awal Desember.
- Terbiasa me-threatment artist Grade A dan B (misal grade A: NOAH, Ungu, dll. Grade B: Five Minutes, Superman Is Dead, dll)
- Public Speaking
- Punya nyali gede
- Sisanya ngobrol-ngobrol aja dulu deh biar jelas
Kalo minat, silahkan kirim CV sama aplikasi ke:
irdunisme@gmail(dot)com
Monday, July 22, 2013
Arsip 24 Maret
Ada yang datang ada yang pergi, fase demi fase dilalui begitu saja. Entah kemana resolusi-resolusi dulu, ketika dihitung mungkin beberapa saja yang dapat terealisasi, entahlah.. hidup memang seperti ini. Berbicara soal kehilangan, sepertinya tidak seorangpun yang tidak merasa takut kehilangan.. Terlebih sesuatu itu penting, berarti, bermakna, dan sangat membekas.
Beberapa bulan lalu, kehilangan yang sangat besar begitu terasa (hingga saat ini). Yang tidak akan pernah terganti, yang akan selalu ada dalam lubuk hati yang terdalam, yang selalu menjadi cinta pertama, yang selalu menjadi orang yang paling tulus.. dalam segala kondisinya, Mama ..
Penyesalan itu hinggap ketika janji-janji yang pernah terucap sudah dirasa sia-sia tanpa adanya kehadiran beliau meski itu terealisasi, meski nyatanya tidak ada yang sia-sia. Bukan hanya soal janji, bukan hanya soal balas budi.. Minimal membuatnya semakin sadar bahwa anaknya ini benar-benar mencintainya, ingin melihatnya bahagia.. dan beliau dapat pergi dengan tenang.
Ada cerita dibalik ini,
selalu ada cerita ..
dalam perpisahan, serta pertemuan
selalu ada cerita ..
Monday, December 31, 2012
Catatan 31 Desember, 2012
Thursday, December 13, 2012
Mama :(
Tuesday, September 27, 2011
Kebahagiaan Tidak Bersifat Sama
Berjalan kesana - kemari demi mencari hal yang baru, sehingga menemui titik jenuh atas pencariannya. Makna yang terkandung selama ini seakan hilang, tak meninggalkan bekas arti yang mungkin dahulu dirasa indah. Kemana kebahagiaan yang sekarang kita cari itu tertuju? Apakah langkah yg kita jajaki itu sudah benar mengarah ke jalan itu? Atau bahkan kita hanya berjalan dan berharap menemui titik temu dimana kebahagiaan itu dirasa cukup untuk mewakilkan hasil dari pencarian itu? Kompleks, benar-benar kompleks!
Bagai sebuah miniatur yang terombang-ambing fikiran atas dasar serta awal mulanya berbagai hal bersumber, dengan mempercayai teori sebab - akibat, serta menganut faham atau dogma yang selama ini tertanam dalam diri kita masing-masing. Semua seakan abstrak ketika berbicara tentang kebahagiaan. Bagaimana mungkin rasa rindu yang menyiksa itu dikatakan sebuah kebahagiaan? Dan bagaimana pula kita dapat menikmati proses tentang pencarian yang tak kunjung menemui titik akhir.
Lalu sebenarnya kita mencari apa dalam konteks "kebahagiaan" itu? Sebuah hal semu yang kita rasakan? Atau pembatasan diri tentang pencarian itulah yang kita namakan sebuah proses? Bergelut di dunia yang penuh canda ini merupakan sebuah hal yang dapat menguras fikiran jika tanpa pembatasan akan konteks yang sedang dilalui, karena jika tidak, kebahagiaan yang kita cari itu akan terus bersifat subjektif. Kita tidak bisa terus menerus berfikir kognitif karena banyak sekali lawan main yang kita jumpai di panggung sandiwara ini. Mereka yang ada, bukanlah miniatur yang bisa selalu kita gerakkan sesuai dengan apa yang kita mau, bahkan mereka pun bisa menjadi kognitif terhadap diri kita. Kita yang menyesatkan jalan dengan fikiran-fikiran kita sendiri.
Kebahagiaan itu relatif, Kebahagiaan itu tidak bersifat sama, juga tidak pernah akan abadi.
Seperti halnya keindahan, yang akan memudar seiring pergantian waktu
Dan mereka yang sukses merealisasikan impiannya menjadi sebuah kebahagiaan, merupakan orang-orang yang mampu menahan segala bentuk egosentrisme dalam kehidupan ini.
Tuesday, August 2, 2011
Kehadirannya part II ..
semua terlihat begitu semu, dan tak seorangpun tahu
hal lain tak tersentuh, begitu mengutarakan mereka mengerti
tak selalu benar yang terasa, tak selalu tepat yang terucap
karena begitu, mereka tersenyum, mereka tertawa
ada duka, ada kebahagiaan, ada pertemuan, ada perpisahan
semua terjadi begitu saja, meninggalkan luka
tidak semua mereka sadari, apalagi tentang rasa sakit
mungkin mereka begitu, karena mereka menginginkannya
menjadi sebuah nilai dalam menjajaki langkah di dalam sana
segala bentuk kehadiran, adalah sebuah potensi
potensi dimana menjadi yang diinginkan, dan tidak diharapkan
andai mereka mengerti bahwa warna tak selamanya indah
untuk apa mereka membandingkan semua itu
selalu ada hal yang lebih baik saat itu menjadi baru
begitulah pasang surut, roda perputaran, dan warna kehidupan
tetapi duka lama tampak redup ketika kembali melihat mata yang tercuri saat itu
indah terasa, senyumannya, hangatnya, juga perhatiannya
semua seakan mengalihkan segalanya
yang tadi itu duka, berubah menjadi tawa
seakan menghapus semua duka, mungkin ini yang kedua
normal ketika itu dilewati biasa, dan yang baru menjadi lebih berarti
entah mengapa, mungkin baru mengalaminya, atau memang lupa pernah merasakan itu
yang jelas, membahagiakan, sungguh membahagiakan
mungkin waktu yang akan menjawab ini
semoga kebahagiaan ini tak hanya berlaku dalam hari-hari ini saja
berlanjut hingga sampai terlihat sebuah gerbang ..
yang diharapkan dapat dilalui bersamanya
sehingga semua itu menjadi indah
dan yang indah, ketika semua dimulai dari nol.
Thursday, July 7, 2011
Warna Bayangan Kehidupan
Secara gamblang, kita lebih mudah untuk mengingat hal buruk yang pernah terjadi, terlebih lagi ketika ada luka yang tertanam di dalam diri kita, baik itu kita sendiri yang menimbulkan goresan itu, ataupun orang-orang yang pernah berada di sekitar kita.
Hal buruk seringkali erat dengan rasa sakit, dan banyak sekali manusia yang tersesat dalam rasa ini. Akan menjadi sebuah kontradiksi ketika membicarakan keikhlasan, kesabaran, dengan rasa sakit. Perlu diketahui, ketika kita berbicara tentang ikhlas ataupun sabar, maka kita sudah tidak perlu terpusingkan rasa sakit yang pernah kita lalui.
Ketika ini semua berhubungan dengan konsekuensi atas langkah yang telah kita pilih, seringkali kita mengacungkan dan menunjukkan jari kita ke arah depan tanpa melihat cermin sebelumnya, yang berarti kita mempersalahkan sesuatu, bahkan seseorang atas rasa sakit yang kita terima, tetapi nyatanya kesalahan itu berasal dari perbuatan kita sendiri, itulah manusia.
Hal seperti ini merupakan contoh-contoh dari warna yang ada di kehidupan kita, yang sebelumnya hanya sebuah bayangan, maka dengan warna ini kita mengenal seperti apa diri kita. Ketika kita bertemu dengan manusia-manusia lainnya, benarkah kita dapat saling memahami seperti apa yang sering kita ucapkan?
Sunday, June 12, 2011
Sedikit Kupasan Tentang Sebuah Hubungan "Adam-Hawa"
Tetapi dalam sebuah hubungan, tidak cukup dengan hanya itu, ada banyak gangguan-gangguan dalam meraih mimpi kita sndiri, siapa yang tidak dapat bertahan, dialah yang tersingkir, dan terkadang, keretakan dalam sebuah hubungan itu bersumber oleh ulah tangan kita sendiri, bodohnya, kita sering melakukan pembenaran atas semua itu. Memang, dalam setiap perkataan yg dilontarkan, yang terpenting itu adalah pembenaran, tapi tidak semua pembenaran dapat dilakukan dalam setiap kondisi.
Jangankan masalah orang ketiga, kepekaan pun menjadi sebuah masalah ketika itu dipertanyakan, sehingga terjadilah sebuah penghitungan perbuatan. Padahal, orang tua kita tidak pernah mengajarkan kita untuk peka, dan ingatlah bahwa pasangan kita itu seorang manusia, bkn mimpi yg kita ciptakan. Jadi untuk apa kita mengharapkan kepekaan, inti dari sebuah hubungan itu adalah komunikasi, apa salahnya kita membicarakannya? Bukan malah meributkannya.
Dan tibalah sebuah keretakan itu dimulai, setelah muncul perbandingan (orang ke 3), yg secara posisi jauh lebih baik daripada pasangan kita,tapi perlu diketahui, bahwa itu dapat diistilahkan sebagai sebuah kabut, yang menghalangi pandangan kita terhadap pasangan. bagaimana tidak? pasangan kita sedang diributkan, secara bersamaan orang ketiga, keempat, dsb itu sedang tampil se-sempurna mungkin. Menariknya, orang ketiga, keempat dsb itu akan merasa diatas angin dengan keributan yang terjadi, yang ia harapkan adalah sebuah perpecahan terjadi. Walaupun ia sering mengeluarkan kata-kata bijak, dan sering menenangkan kita, tetapi dalam hatinya ia selalu berharap kita dapat melepas pasangan kita. Tetapi sayangnya, saat hubungan dengan pasangan mulai membaik, ia (org ketiga, keempat dsb) tak lebih dari sekedar org yg "terbuang".
Out of love .. sacrifice is born, hate is born .. and we are all able to know PAIN
Permasalahan tidak hanya muncul dengan keberadaan orang ketiga, permasalahan seperti ini hanya muncul bagi mereka yang kurang bisa menahan diri akan gangguan yang melanda.
Kita yang menentukan pilihan bagi kita sendiri, seharusnya kita dapat melakukan hal-hal yang membawa pada sebuah kebaikan, dengan tidak menciptakan rasa sakit baru, terlebih lagi bagi orang lain.
Saturday, March 26, 2011
Tentang Zaman
Melihat realita pada tingkah laku manusia zaman sekarang, sepertinya kata "kemajuan zaman" hanya tersurat sebagai kata-kata dan simbol angka yang terus bertambah. Kenyataannya, perilaku yang dilakukan manusia sekarang juga pernah dilakukan oleh manusia-manusia sebelum kita dilahirkan. Ambigu jika kemajuan zaman ini dikatakan kemunduran zaman, karena zaman sekarang tidak dapat disamakan dengan zaman-zaman tertentu, hanya saja ada perilaku yang kembali seperti manusia di zaman dahulu.
Zaman sekarang ini, dimana kesalahan dibenarkan, dan kebenaran disalahkan. Kata "kemanusiaan" hanya sebatas wacana, tafsir-tafsir kitab suci disalahartikan, kerukunan antar umat beragama sudah memudar, pasangan sesama jenis semakin terang-terangan, faham atheis dijadikan trend, dan yang lebih parah lagi saat semua hal ini dibicarakan selalu terbentur dengan kalimat "HAK ASASI MANUSIA".
Kemajuan zaman bukan berarti kemajuan terhadap sebuah peradaban, dengan teknologi yang mutakhir, dan juga fasilitas yang disediakan menjadikan manusia-manusia semakin arogan, dan lebih mengedepankan hak daripada kewajibannya.
Mungkin bagi mereka, berdoa lewat media dianggap lebih baik daripada mengucapkannya secara langsung, telefon genggam lebih dahulu dipegang daripada membaca doa saat baru bangun dari tidur, apa pertanda dari fenomena-fenomena ini?
Apapun itu, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, tidak membuat manusia-manusia menjadi "buta" akan kesadaran dirinya sebagai insan yang selalu memiliki batasan dan mudah terluka dalam setiap langkahnya.
Tuesday, January 25, 2011
Pasang Surut
sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku ceritrakan, banyak sekali syair yang ingin aku rangkai, mudah-mudahan di lain waktu aku bisa menuliskannya disini.
Pasang surut tentang kehidupan itu kian terasa sekarang, terlebih dengan pemikiran kita yang semakin luas, semakin kita banyak tahu, semakin bingung kita menentukan arah jalan, terlalu banyak pilihan.
dan ternyata, sekian banyak permasalahan dari seorang pria, kebanyakan pria lebih rapuh ketika ditanya soal cinta, soal wanita, terserah anda ingin mempersepsikan seperti apa, tetapi intinya salah satu faktor yang menjatuhkan seorang pria ialah wanita. Mungkin ini hanya intermezzo, agar tidak selalu cemas dalam membaca, atau jika ada yang membaca ini sedang rapuh, mungkin sedikit lega karena "penyakit" yang anda alami sekarang itu tidak hanya anda rasakan sendiri :).
begitulah yang dinamakan pasang surut, ketika kita semakin banyak mempersepsikan sesuatu, justru itulah yang menyesatkan kita. Tapi memang kita sendiri tidak dapat lepas dari fitrah kita sebagai manusia, yang selalu tidak pernah puas akan hal apapun, sehingga semua yang terjadi menjadi sebuah persepsi .. tidak ada yang melarang kita untuk berpersepsi, hanya saja, filter yang dibutuhkan dalam sebuah persepsi itu haruslah jernih, agar input yang masuk juga jernih, sehingga persepsi yang kita keluarkan itu positif, dan terlepas dari segala bentuk kecemasan ..
Sunday, June 20, 2010
Mungkin Kurang Tepat Sasaran
Mencoba mempraktekkan kepada lawan main di drama ini, tanpa ada perundingan sebelumnya, dan mengharapkan jalan ceritanya sesuai dengan alur yang telah tertulis, lalu bertemu dengan sebuah titik, titik dimana sang Sutradara kebingungan di tengah jalan cerita, karena pemainnya belum juga mengerti akan naskah yang diberikan. Mencoba membenahi kembali kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan, menanamkan kepercayaan kepada mereka, tetapi apalah daya, pemain itu belum juga mempunyai niatan untuk membuka mata dan hatinya. Karena sebuah kesalahan. Begitulah kira-kira jika hal ini diibaratkan sebuah opera.
Penyelesaian dalam hal ini masih digali, dengan mencari celah, dan waktu yang tepat, karena kegagalan dalam sebuah perencanaan akan sangat disesalkan, meskipun masih banyak kesempatan, tetapi yang sangat disayangkannya adalah ini sudah 3/4 jalan, hanya beberapa langkah lagi untuk menyempurnakan rencana itu.
Langkah demi langkah terus dijalani, tidak ada sedikitpun harapan bahwa praktek ini kurang tepat sasaran, dalam artian dengan lawan main yang kurang tepat, sehingga harus memilih kembali lawan main, dan dimulai dari awal lagi.
Tidak ada indikasi pembodohan dalam kasus ini ..
Hanya sebuah perencanaan demi sebuah perubahan ..
Dan dewasa serta bijak dalam sebuah permasalahan ..
Tuesday, April 20, 2010
Mencoba Pahami Keraguan
Keraguan itu sering muncul setiap akan melakukan aktivitas, dan timbul pertanyaan-pertanyaan di dalam diri sehingga muncul sebuah suggesti yang meyakinkan diri kita mampu ataupun tidak, tetapi jika disadari lebih dalam, tidak ada kata tidak bisa apabila mempercayai analogi segala kemungkinan itu dapat terjadi.
Benar sekali adanya, karena yang menstimulus semua itu adalah suggesti yang keluar di dalam diri kita sendiri, semua orang pasti bisa jika ia yakin bahwa ia bisa, dan semua orang pasti tidak bisa jika ia yakin tidak bisa. Dari mana tolak ukurnya? Kemampuan? Pengalaman? Pernahkah terfikir jika kemampuan dan pengalaman itu adalah hal yang telah dilakukan sebelumnya? Dengan sebuah proses pembelajaran, dan niat untuk mencobanya, sehingga muncul sebuah hasil, apapun itu. Terbayang hal yang belum pernah dilakukan? Atau bahkan masih ragu untuk mencobanya?
Meskipun sebuah keraguan itu muncul dari dalam diri, tetapi hal itu seharusnya tidak berpengaruh dalam percobaan dari sebuah proses.
Akan tetapi, berbeda kasus dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang sedang dirasakan atau bahkan difikirkan, seperti "apakah dia mencintai kita?". "Apakah kita mencintainya?", segala kemungkinan selalu terkumpul di dalam otak, pertimbangan dari setiap ucapan, sikap, dan perasaan, justru itulah yang menstimulus otak kita. Timbullah sebuah persepsi, dimana hal itu diyakini untuk beberapa saat sehingga muncul keraguan-keraguan selanjutnya. Jangan pernah menganggap sepele perkara ini, karena persepsi dan suggesti dari diri sendiri juga menentukan setiap proses pencarian hasil.
Aku sendiri meyakini banyak sekali orang-orang yang diselimuti keraguan dalam setiap langkahnya, dan orang-orang yang tersesat dengan pemikirannya sendiri.
Disini aku hanya mencoba untuk memahami, bukan untuk meyakinkan orang-orang agar meragukan setiap langkahnya, tetapi perlu disadari bahwa banyak sekali hal yang lebih penting dari ini, dan karena hidup itu pilihan, hargailah setiap proses-prosesnya, karena setiap langkah yang diambil itu penuh konsekuensi, tak terlepas itu menguntungkan atau bahkan merugikan.
Yang jelas, pergunakanlah apa yang kita miliki, aku kira kapasitas organ-organ tubuh yang ada dalam diri kita, sudah lebih dari cukup untuk melakukan sebuah tindakan.
Pengabdian yang Disertai Kesederhanaan
Merebahkan tubuh ini begitu mahal rasanya ketika semua aktivitas tidak dirasakan dengan berlebih, lalu bisa menemukan waktu yang bisa menenangkan seluruh fikiran. Seluruh isi dari ruangan itu kutatap, tak terkecuali dengan orang-orang yang ada saat itu, tak terdengar jelas ucapan dari mulut mereka, karena menurutku tidak semua ucapan itu adalah penting, meskipun sedikit naif untuk menyadari hal ini, karena jika didengarkan dengan baik, itu semua merupakan informasi yang sangat penting, namun perhatianku tidak tertuju kesana.
Hingga aku sendiri tertegun dengan percakapan yang kudengar, tentang kesederhanaan seseorang, dengan kemampuan yang terbatas, namun ia bisa memanfaatkan seluruh waktunya untuk berarti bagi orang lain, dan tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang telah ia lakukan, murni atas pengabdian seseorang dengan perasaan yang ia rasa.
Mengurus seseorang bukanlah hal yang sangat mudah, mengingat itu adalah orang lain, bukan anggota keluarga sendiri, dan ia mengabdi kepada seorang kakek-kakek yang telah lanjut usia, yang waktu itu sedang berbaring di ruangan Rumah Sakit, dan tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan mengucapkan sebuah kata pun kakek itu tak sanggup, tetapi wanita itu tetap setia mengurusnya, bahkan suster Rumah Sakit itu pun kalah dengan pelayanan dan pengabdian darinya.
Keluarga dari sang kakek menyarankan agar wanita itu kembali ke Panti tempat dimana ia berasal, karena memang Dokter Rumah Sakit pun sudah tidak menyanggupi untuk menanggulangi penyakit kakek itu, namun wanita itu menolak dengan nada yang lembut, lalu mengucapkan beberapa kalimat, "saya tidak akan pulang dulu, nanti saja, saya sayang sama kakek. Saya akan pulang kalau kakek "pulang".
Aku tertegun mendengar semua kata-kata itu, mengingat wanita itu bukanlah siapa-siapa bagi keluarga sang kakek, hanya seorang pekerja yang ditugaskan mengurus kakek keluarga itu. Tetapi kesederhanaan dan pengabdian yang diberikan begitu besarnya, hingga ia rela menghabiskan banyak waktunya untuk mengurus kakek itu.
Mataku berkaca-kaca setelah kalimat itu terucap, aku berfikir di dunia ini masih banyak orang-orang yang baik, orang-orang yang perduli terhadap orang lain, orang yang kurang mampu tetapi bisa memperkaya dirinya dengan memberi arti dan pengabdian. Bertolak belakang sekali dengan realita yang ada di kota-kota besar, termasuk kota yang aku singgahi sekarang, tempat dimana aku dilahirkan.
Fenomena ini begitu membuat aku tersadar akan banyak hal, dan mempertegas bahwa materi bukanlah segalanya, kebutuhan tidaklah selalu menjadi tuntutan, dan dengan kesederhanaan, hal sekecil apapun bisa menjadi sebuah hal yang sangat besar.
Semoga saja kedepannya aku dapat bertemu lagi dengan fenomena-fenomena seperti ini, dan bahkan aku sendiri yang membuat fenomena itu.
Semoga saja ..